Mengganti ban mobil bukan perkara murah. Untuk satu set ban dengan ukuran populer, pemilik mobil bisa merogoh kocek jutaan rupiah. Karena itu, perawatan sederhana seperti rotasi ban rutin perlu dilakukan agar usia pakai ban lebih panjang dan pengeluaran tidak membengkak lebih cepat dari seharusnya. Menurut Fachrul Rozi, Product Manager PT Michelin Indonesia, rotasi ban merupakan langkah preventif yang kerap diabaikan pemilik kendaraan, padahal dampaknya cukup signifikan terhadap keausan. “Rotasi ban sebaiknya dilakukan secara berkala mengikuti anjuran pabrikan mobil, umumnya setiap 10.000 kilometer, selama tidak ada masalah pada ban maupun komponen kaki-kaki. Tujuannya agar tingkat keausan merata di semua posisi roda,” kata Rozi kepada Kompas.com, Kamis (26/2/2026). Mengapa Rotasi Itu Penting? Pada mobil berpenggerak roda depan (FWD), ban depan biasanya bekerja lebih berat karena menanggung fungsi kemudi sekaligus traksi. Akibatnya, ban depan cenderung lebih cepat aus dibandingkan ban belakang. Tanpa rotasi rutin, pemilik mobil berpotensi mengganti dua ban lebih dulu karena aus parah, sementara dua ban lainnya masih relatif tebal. Kondisi ini tentu kurang efisien secara biaya. “Kalau rotasi tidak dilakukan, sering terjadi dua ban habis lebih dulu. Padahal dua ban lainnya masih layak pakai. Ini yang membuat biaya perawatan jadi terasa lebih berat,” kata Rozi. Pentingnya rotasi ban Dengan rotasi berkala, posisi ban ditukar sesuai pola yang direkomendasikan pabrikan. Langkah ini membuat beban kerja ban lebih seimbang sehingga keausan terjadi lebih merata dan umur pakai keseluruhan bisa lebih panjang. “Rotasi membantu distribusi beban menjadi lebih seimbang. Harapannya, keausan merata dan pemilik kendaraan bisa mengganti ban dalam satu set sekaligus, bukan dua-dua,” ucapnya. Dampak ke Kantong dan Keselamatan Selain faktor ekonomis, keausan tidak merata juga dapat memengaruhi kenyamanan dan keselamatan berkendara. Ban yang sudah menipis di satu sisi bisa memicu getaran, menurunkan stabilitas saat bermanuver, hingga memperpanjang jarak pengereman. “Ban yang aus tidak merata bisa memengaruhi kestabilan kendaraan, terutama saat pengereman atau ketika melaju di kecepatan tinggi. Ini bukan hanya soal biaya, tapi juga soal keselamatan,” kata Rozi. Rozi menambahkan, rotasi sebaiknya dilakukan bersamaan dengan pengecekan tekanan udara dan inspeksi visual kondisi tapak ban. Jika ditemukan aus tidak wajar, bisa jadi ada persoalan lain seperti spooring yang tidak presisi atau komponen suspensi bermasalah. “Setiap rotasi adalah momen yang tepat untuk melakukan inspeksi menyeluruh. Kalau ada keausan yang tidak normal, biasanya ada faktor lain seperti alignment atau komponen kaki-kaki yang perlu dicek,” katanya. Dengan kata lain, mengikuti jadwal rotasi setiap 10.000 km bukan sekadar rutinitas servis. Ini adalah cara sederhana dan relatif murah untuk menghindari penggantian ban lebih cepat, sekaligus menjaga performa kendaraan tetap optimal dalam jangka panjang. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang