Xiaomi SU7 facelift Xiaomi sedang membuktikan satu hal penting di industri otomotif modern: mobil listrik tidak harus mahal untuk terlihat canggih dan kencang. Masalahnya, strategi itu ternyata membuat perusahaan harus membayar harga yang sangat mahal. Produsen teknologi asal China tersebut diketahui masih merugi besar dari bisnis mobil listriknya, meski penjualan terus meningkat. Bahkan, rata-rata kerugian Xiaomi disebut mencapai sekitar Rp90 jutaan setiap satu unit mobil berhasil terjual. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Situasi ini memperlihatkan betapa brutalnya persaingan mobil listrik di China saat ini. Perang bukan lagi soal siapa paling cepat atau paling mewah, melainkan siapa yang paling berani menekan harga.Xiaomi masuk ke industri otomotif dengan pendekatan yang berbeda dibanding pabrikan mobil tradisional. Mereka menjual kendaraan seperti menjual gadget: fitur melimpah, desain atraktif, performa tinggi, namun harga dibuat semenarik mungkin.Hasilnya memang langsung terasa. Sedan listrik SU7 berhasil mencuri perhatian pasar karena dianggap menawarkan kombinasi desain mirip mobil Eropa, teknologi modern, dan akselerasi buas dengan harga jauh lebih murah dibanding rival global.Dalam waktu singkat, disadur VIVA Otomotif dari Carscoops, Kamis 28 Mei 2026, Xiaomi mampu menjual puluhan ribu mobil dan mulai disejajarkan dengan pemain besar seperti Tesla dan BYD di pasar domestik China.Namun di balik euforia tersebut, biaya yang harus ditanggung perusahaan ternyata sangat besar. Pengembangan platform mobil, teknologi baterai, software, sistem autonomous driving, hingga pembangunan jaringan produksi membuat pengeluaran membengkak.Kondisi itu menunjukkan bahwa menjual mobil listrik ternyata jauh berbeda dibanding menjual smartphone atau perangkat elektronik. Di industri otomotif, volume besar belum tentu langsung menghasilkan keuntungan. Apalagi ketika produsen sengaja menekan margin demi mempercepat pertumbuhan pasar. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Menariknya, Xiaomi tampaknya sadar bahwa strategi “bakar uang” tidak bisa berlangsung selamanya. Karena itu, mereka mulai menghadirkan model yang lebih mahal dan lebih eksklusif. Salah satunya SUV performa tinggi YU7 GT dengan tenaga hampir 1.000 horsepower, serta SU7 Ultra yang diposisikan sebagai mobil performa flagship.Langkah tersebut diyakini menjadi upaya Xiaomi meningkatkan margin keuntungan tanpa kehilangan citra sebagai merek teknologi yang agresif dan inovatif. Meski masih rugi besar, Xiaomi tampaknya belum terlalu khawatir. Perusahaan justru terlihat sedang membangun fondasi jangka panjang untuk menjadi pemain utama industri otomotif masa depan.