Upaya Bank Sampah Banjarnegara (BSB) mengembangkan teknologi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) akhirnya mendapat perhatian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Setelah melalui pengembangan mesin selama beberapa tahun, BSB mendapatkan kesempatan untuk membawa produk hasil pengolahan sampah plastiknya menjalani pengujian laboratorium. Pengurus BSB, Muntoha, mengatakan, teknologi pengolahan tersebut mulai dikembangkan sejak 2018. BSB kemudian terus melakukan penyempurnaan hingga menghasilkan mesin generasi kelima. "Di tahun 2023, kami ketahuan dari pihak BRIN. BRIN berkunjung ke kami, produk kami dibawa untuk diuji lab, di termodinamika BRIN sama Lemigas. Setelah itu, ternyata produk kami bagus menurut mereka," ujar Muntoha, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Pengujian tersebut menjadi salah satu tahapan penting bagi BSB karena produk yang dihasilkan dari proses pengolahan sampah plastik perlu diketahui karakteristik dan kualitasnya melalui pengujian laboratorium. Dari proses tersebut, BSB kemudian mendapatkan pendampingan dari BRIN. Pendampingan itu tidak hanya berkaitan dengan pengembangan teknologi, tetapi juga aspek formalitas dan pengujian produk. Pendampingan sampai 2028 Muntoha menambahkan, BRIN akhirnya memberikan pendampingan kepada BSB hingga 2028 mendatang. "Pendampingannya dari BRIN lebih kepada sisi formalitasnya, seperti membantu membuatkan hak paten, membantu mendanai uji laboratoriumnya, dan mengenalkan kepada dinas-dinas terkait," kata Muntoha. Foto Bank Sampah Banjarnegara produksi BBM Petasol dari limbah plastik. Perjalanan BSB mengembangkan mesin pirolisis menunjukkan bahwa pemanfaatan sampah plastik sebagai bahan baku produk bernilai ekonomi membutuhkan proses yang panjang. Mulai dari persoalan tumpukan sampah, pengembangan mesin secara mandiri, kegagalan beberapa generasi teknologi, hingga pengujian oleh lembaga riset dan laboratorium. Seluruh tahapan tersebut menjadi bagian dari proses BSB mengembangkan Petasol. Bagi BSB, pengolahan sampah plastik melalui teknologi pirolisis tidak hanya ditujukan untuk mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menjadi upaya menciptakan kegiatan yang dapat memberikan nilai ekonomi secara mandiri.