Sampah plastik menjadi salah satu persoalan lingkungan yang sulit ditangani karena membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai secara alami. Kondisi tersebut mendorong Bank Sampah Banjarnegara (BSB) di Desa Kasilib, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, mencari cara agar sampah plastik yang terkumpul tidak hanya berakhir menjadi tumpukan, tetapi juga bisa memiliki nilai ekonomi. Pengurus BSB, Muntoha, mengatakan, BSB sudah berdiri sejak 2014. Namun, pada awal berdirinya, pengelola belum memiliki teknologi untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM). "Seiring berjalannya waktu, nama Petasol itu diberikan ke kami di tahun 2023," ujar Muntoha, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Bahan Bakar Minyak (BBM) setara bio solar bernama Petasol diujicoba di Balai Kota Semarang, Jawa Tengah.  Sampah Plastik Mulai Menggunung Muntoha menambahkan, kondisi tersebut membuat sampah plastik yang dikumpulkan BSB lama-kelamaan semakin menumpuk. Dari persoalan itu, pengelola mulai mencari teknologi yang dapat mengurai sekaligus memberikan nilai tambah terhadap sampah plastik. "Dari situ kami baru berpikir bagaimana caranya supaya gunungan sampah di tempat kami itu bisa terurai. Akhirnya, kami cari teknologi yang bisa untuk mengurai plastik," kata Muntoha. Menurut Muntoha, BSB tidak hanya mencari teknologi untuk mengurangi volume sampah. Pengelola juga mempertimbangkan aspek ekonomi karena operasional bank sampah harus dilakukan secara mandiri. "Tetapi, yang kami harapkan adalah profitnya, karena kami mandiri. Akhirnya, kita pilih teknologi mesin pirolisis di tahun 2018. Dari situ kami mencoba membuat sendiri mesin pirolisis itu," ujarnya. Petasol Pirolisis merupakan proses penguraian material dengan cara memanaskannya pada suhu tinggi dalam kondisi minim atau tanpa oksigen. Pada sampah plastik, proses tersebut dapat memecah rantai polimer menjadi senyawa hidrokarbon yang kemudian dapat diolah menjadi produk berbentuk minyak. Berkali-kali Gagal Mengembangkan Mesin Perjalanan BSB untuk menghasilkan mesin pirolisis tidak berlangsung singkat. Pengelola harus melakukan pengembangan berulang kali karena mesin generasi awal belum mampu bekerja sesuai harapan. "Kami namakan waktu itu Gen 1, tetapi masih gagal. Akhirnya, kami pengembangan lagi di tahun 2019, di Gen 2, dan juga masih gagal lagi. Karena ada pandemi kami berhenti riset," ujar Muntoha. Setelah pandemi, BSB kembali melanjutkan pengembangan mesin tersebut. Kali ini, pengelola memasuki generasi ketiga. "Setelah pandemi, di tahun 2020 kami masuk riset Gen yang ketiga. Gen ketiga juga masih gagal. Akhirnya, kami di tahun 2021 masuk Gen keempat. Gen keempat itu sudah jadi mesin kami, tapi belum efektif. Di tahun 2022 akhir kami masuk Gen 5. Alhamdulillah sudah jadi," kata Muntoha. Setelah menghasilkan mesin pirolisis generasi kelima, BSB sekarang sudah mampu memproduksi BBM untuk mesin bensin dan mesin diesel.