Industri otomotif China belum juga keluar dari pusaran perang harga yang sudah berlangsung dalam dua tahun terakhir. alih mereda, sejumlah produsen justru tetap agresif memberikan diskon demi menjaga penjualan. Di tengah permintaan yang melemah, BYD kembali memangkas harga produknya secara signifikan. Langkah serupa juga ditempuh rival domestik seperti Geely dan Chery yang masih mengandalkan strategi harga kompetitif. BYD Seal 08 Padahal, pemerintah China sebelumnya telah mengingatkan para pelaku industri untuk menghentikan perang harga. Regulator menilai praktik ini berpotensi menciptakan persaingan tidak sehat atau 'kompetisi involutif', istilah yang sempat disampaikan Perdana Menteri Li Qiang. Namun hingga kini, kebijakan tersebut belum menunjukkan dampak signifikan. Data Bloomberg yang dikutip Carscoops mencatat rata-rata penurunan harga lini produk BYD mencapai sekitar 10 persen pada Maret. Sementara Geely dan Chery menawarkan potongan lebih dalam, yakni sekitar 15 persen, dan relatif stabil dalam 12 bulan terakhir. Salah satu faktor utama yang mendorong perang harga adalah ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan. Sepanjang tahun lalu, penjualan mobil baru di China tercatat sekitar 23 juta unit, jauh di bawah kapasitas produksi yang mencapai 55,5 juta unit per tahun. Kondisi ini memaksa produsen meningkatkan ekspor, terutama kendaraan listrik. Bahkan, pengiriman EV dari China ke pasar global dilaporkan melonjak signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Di sisi lain, tekanan regulator juga mulai berdampak pada keuangan perusahaan. Produsen kini diminta mempercepat pembayaran kepada pemasok, berbeda dari praktik sebelumnya yang kerap menunda pelunasan demi menjaga arus kas. Teknologi hybrid cerdas i-HEV Geely. Perubahan ini meningkatkan beban liabilitas. Pada BYD, rasio utang terhadap ekuitas dilaporkan telah menyentuh sekitar 25 persen. Sekretaris Jenderal International Organization of Motor Vehicle Manufacturers, Francois Roudier, menilai kondisi ini tidak sepenuhnya menguntungkan. Menurutnya, meski terlihat menarik bagi konsumen, perang harga justru menekan margin produsen dan berisiko mengganggu stabilitas industri. “Terlihat menguntungkan bagi konsumen, tetapi produsen justru merugi. Dampaknya bisa merembet ke seluruh ekosistem industri,” ujarnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang