Konsumsi bahan bakar yang tiba-tiba terasa lebih boros sering kali membuat pemilik mobil langsung menaruh curiga pada kerusakan besar. Padahal, dalam banyak kasus, penyebabnya justru berasal dari hal-hal sepele yang kerap luput dari perhatian. Widodo, pemilik bengkel AD Oya, mengatakan salah satu faktor utama yang memengaruhi boros tidaknya BBM adalah pemilihan bahan bakar yang tidak sesuai dengan spesifikasi mesin. "Oktan yang tidak sesuai atau pemilihan BBM yang keluar dari spesifikasi mesin. Bahkan naik oktan pun tidak boleh," kata Widodo, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (6/1/2026). Menurutnya, masih banyak pemilik mobil beranggapan bahwa penggunaan BBM dengan oktan lebih tinggi otomatis membuat mesin lebih irit. Hitung konsumsi BBM Mitsubishi Destinator Padahal, jika spesifikasi mesin tidak membutuhkannya, justru tidak memberi manfaat signifikan terhadap efisiensi. Selain soal BBM, kondisi mesin juga berperan besar terhadap konsumsi bahan bakar. Mesin yang tidak dalam kondisi prima akan bekerja lebih berat untuk menghasilkan tenaga yang sama. "Kedua, sudah pasti kondisi mesinnya tidak fit," ujarnya. Mesin yang jarang diservis, busi haus, filter udara kotor, hingga setelan mesin yang tidak optimal bisa membuat proses pembakaran menjadi tidak efisien, sehingga BBM lebih cepat habis. Faktor lain yang sering dianggap sepele adalah perubahan pada kaki-kaki, khususnya ukuran ban dan pelek. Widodo menjelaskan, penggunaan ban dan pelek dengan ukuran lebih besar dari standar pabrikan dapat meningkatkan beban kerja mesin. "Selain itu, lingkaran ring, ketebalan ban atau diameter lingkaran pelek. Semakin besar akan semakin boros karena rotasinya kan lebih berat tenaganya," kata Widodo. Ban dan pelek berdiameter besar membutuhkan tenaga lebih untuk berputar, terutama saat mobil berakselerasi dari kecepatan rendah. Akibatnya, konsumsi BBM pun meningkat. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang