Mobil hybrid dikenal lebih irit bahan bakar dibanding mobil konvensional karena memadukan mesin bensin dan motor listrik. Namun, dalam praktiknya konsumsi BBM mobil hybrid bisa menjadi lebih boros jika kondisi baterai mulai menurun, perawatan kendaraan kurang optimal, hingga pola berkendara pengemudi terlalu agresif. Jayan Sentanuhady, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan, seharusnya mobil hybrid lebih efisien karena didukung teknologi canggih. Namun, efisiensi tersebut bisa menurun jika ada komponen yang bermasalah atau pola penggunaan yang kurang tepat. “Sumber data konsumsi BBM pada mobil hybrid ada di mesin bakarnya, bila mesin ini bekerja lebih lama dan ada penurunan performa, misal karena perawatannya buruk, maka mobil akan jadi kurang efisien,” ucap Jayan kepada Kompas.com belum lama ini. Baterai mobil hybrid. Penyebab paling umum mobil hybrid menjadi lebih boros adalah kesehatan baterai hybrid electric vehicle (HEV) yang mulai menurun seiring pemakaian. Dampaknya, motor listrik jadi lebih jarang membantu kerja mesin, sehingga mesin bensin lebih sering aktif. Ketika mode EV jarang bekerja, konsumsi BBM akan meningkat karena mesin bensin harus menjadi sumber tenaga utama sekaligus menyuplai daya listrik ke baterai. Selain itu, teknik mengemudi agresif juga dapat membuat konsumsi BBM mobil hybrid menjadi lebih boros. Kondisi lalu lintas turut memengaruhi efisiensi mobil hybrid. Kendaraan jenis ini justru paling hemat saat digunakan di kemacetan atau kecepatan rendah karena masih bisa berjalan menggunakan tenaga listrik. “Ini bisa terjadi saat mobil melaju pelan, seperti di parkiran, jalanan macet, gang dan sejenisnya, selama baterai terisi maka motor listrik saja yang akan menggerakkan roda, sementara mesin kondisinya mati,” ucap Jayan. Sebaliknya, saat pengemudi menginjak pedal gas secara spontan dan dalam, sistem akan mengaktifkan mesin bensin dan motor listrik secara bersamaan demi menghasilkan tenaga maksimal. “Efeknya akselerasi lebih buas, tapi konsumsi BBM menjadi lebih boros, selain itu baterai HEV akan terkuras, sehingga mesin bakar juga bertugas untuk mensuplai arus listrik atau berperan sebagai generator,” ucap Jayan. Kecepatan tinggi di jalan tol juga bisa membuat konsumsi BBM meningkat. Pada kondisi tersebut, mesin bensin bekerja lebih dominan karena motor listrik memiliki keterbatasan saat mobil melaju cepat. “Faktor lainnya hampir sama dengan mobil konvensional, seperti penggunaan AC, muatan, tanjakan, dan perawatan secara keseluruhan,” ucap Jayan. Penggunaan AC dan berbagai fitur kelistrikan juga memengaruhi efisiensi bahan bakar. Beban listrik yang besar membuat mesin bensin lebih sering menyala untuk mengisi daya baterai. Selain itu, tekanan angin ban yang kurang juga dapat menambah hambatan saat mobil melaju. Sama seperti mobil konvensional, ban kempis membuat energi yang dibutuhkan menjadi lebih besar. Bobot kendaraan dan muatan juga berpengaruh terhadap konsumsi BBM. Semakin berat kendaraan, maka mesin bensin akan lebih sering membantu motor listrik ketika akselerasi. Kondisi jalan menanjak membuat sistem hybrid bekerja lebih keras. Mesin bensin akan aktif lebih lama untuk menjaga tenaga sekaligus mengisi ulang baterai. “Mesin bakar di HEV juga membutuhkan perawatan seperti mobil konvensional, seperti ganti oli, busi, filter udara dan sebagainya, bila komponen sudah jelek performa akan menurun, konsumsi BBM meningkat,” ucap Jayan. Menurut Jayan Sentanuhady, meski sistem manajemen energi mobil hybrid sudah sangat pintar, efisiensi terbaik tetap bergantung pada gaya berkendara hemat dan perawatan rutin kendaraan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang