Dari kejauhan, Stelato S9T membuat redaksi Kompas.com berhenti sejenak di lantai pameran Guangzhou International Automobile Exhibition 2025, China, Jumat (21/11/2025). Bukan karena tampilannya mencolok, tetapi karena station wagon ini terasa berbeda sejak pandangan pertama. Siluet panjangnya proporsional, dengan dimensi panjang 5.160 mm dan lebar 2.005 mm yang memberi karakter layaknya grand tourer modern. Stelato S9T Namun, impresi paling kuat justru muncul ketika mendekat dan melihat detail teknologinya. alih kaca spion, S9T menggunakan modul kamera besar yang berisi sedikitnya enam kamera kecil dan sensor yang memproyeksikan gambar ke layar di sisi pintu. Kesan futuristiknya terasa natural, seolah sistem ini memang menjadi standar baru, bukan eksperimen teknologi. Kejutan berikutnya ada di baris kedua. Tepat di depan penumpang belakang, terdapat layar proyektor besar yang berfungsi layaknya televisi rumahan. Stelato S9T Proyektornya sendiri disembunyikan rapi di pilar C, tertanam di balik panel sehingga tidak mengganggu estetika kabin. Penempatan ini memberi kesan premium karena seluruh perangkat bekerja tanpa terlihat. Masuk ke kabin depan, nuansa teknologi langsung terasa. Tiga layar besar 16,1 inci sebagai layar pusat, 12,3 inci sebagai instrumen, dan 12,3 inci untuk penumpang depan—berjalan di atas sistem HarmonyOS yang responsif. Fitur suara enam zona, biometrik, layanan AI, serta konfigurasi interior empat warna membuat kabin terasa seperti lounge digital alih-alih sekadar ruang kemudi. Stelato S9T Kenyamanan juga menjadi fokus penting. Kursi depan zero gravity dapat direbahkan penuh dengan satu tombol, sementara seluruh kursi sudah dilengkapi pemanas, ventilasi, dan pijat 10 titik. Upholstery berbahan Nappa, pintu elektrik, ambient lighting, hingga kulkas bawaan melengkapi karakter mewah dari kabin S9T. Di sisi keselamatan aktif, S9T dilengkapi sistem Huawei ADS 4 yang didukung total 32 sensor, termasuk empat LiDAR, salah satunya LiDAR 192-line di bagian depan—lima radar gelombang milimeter, 11 kamera, dan 12 sensor ultrasonik. Kombinasi ini memungkinkan navigasi point-to-point, NOA (Navigate on Autopilot), serta parkir otomatis dengan tingkat deteksi obyek yang stabil di segala cuaca. Stelato S9T NOA adalah fitur berkendara semi-otomatis yang memungkinkan mobil mengikuti rute navigasi secara mandiri dari titik awal hingga tujuan. Dalam praktiknya, sistem ini bisa melakukan tugas seperti mengubah jalur, menyalip kendaraan lebih lambat, masuk–keluar tol, hingga mengambil jalur yang tepat di persimpangan, selama pengemudi tetap memberikan pengawasan. Beralih ke sektor mekanis, mobil ini menggunakan suspensi udara dan damper variabel berbasis platform Huawei Tuling 3.0, yang memungkinkan ground clearance diatur antara 113–163 mm dan memiliki kemampuan wading hingga 430 mm. Dikutip dari laman resminya, Stelato S9T hadir dalam dua pilihan powertrain, yakni listrik murni (BEV) dan extended-range (REEV). Varian listrik murni memakai baterai 100 kWh dengan jarak tempuh hingga 801 Km (CLTC), tersedia opsi single motor 227 kW atau dual motor AWD 385 kW. Varian EREV menggunakan baterai 37 kWh atau 53,4 kWh, dikombinasikan dengan motor listrik 227 kW dan mesin 1.5 liter sebagai generator. Konfigurasinya mampu menempuh hingga 354 Km dalam mode listrik penuh dan 1.305 Km dalam mode gabungan (CLTC). Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.