– Kebijakan bebas ganjil-genap (gage) untuk mobil listrik mulai menimbulkan perdebatan. Sebab, dengan semakin banyaknya kendaraan listrik (EV) yang beredar di jalan, tujuan utama gage untuk membatasi volume kendaraan dikhawatirkan tak lagi efektif. Fenomena ini menjadi perhatian sejumlah pengamat transportasi, termasuk Founder & Training Director Jakarta Defensive Driving and Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, yang menilai pemerintah meninjau perlu ulang kebijakan tersebut. Kondisi MG ZS EV setelah menabrak hotel “Jawabannya bisa dilihat secara logika. Masalah kemacetan itu tetap terjadi, bahkan tanpa adanya mobil listrik sekalipun. Faktanya, sebelum kendaraan listrik muncul, problem kemacetan sudah menjadi dilema yang belum terselesaikan dengan solusi yang ada," ujar Jusri kepada Kompas.com, Rabu (29/10/2025). Menurutnya, ke depan kehadiran mobil listrik justru bisa saja memperparah situasi bila tidak diimbangi dengan regulasi yang seimbang. “Sekarang, dengan bertambahnya komponen kendaraan yang bergerak di jalan, masalah yang sudah ada menjadi semakin parah. Apalagi dengan adanya kebijakan fiskal dan insentif lain yang justru mendorong pertumbuhan kendaraan,” katanya. “Akibatnya, jumlah kendaraan terus bertambah, sementara rasio pertambahan jalan terhadap kendaraan sejak sebelum era EV saja sudah bermasalah. Rasio pertumbuhan pembangunan jalan tidak sampai satu persen per tahun,” katanya. Pengendara kendaraan bermotor melintas di kawasan Jalan Jenderal Sudirman saat hari pertama pemberlakuan kembali kebijakan ganjil-genap kendaraan di Jakarta, Senin (3/8/2020). Pemprov DKI Jakarta kembali memberlakukan kebijakan ganjil-genap bagi kendaraan roda empat pribadi di 25 ruas jalan di Jakarta untuk membatasi mobilitas warga dan menghindari adanya penumpukan kendaraan di jalan raya pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi. “Apakah perlu dikaji lagi? Ya, tentu perlu," ujar Jusri. Menurut Jusri, transisi ke kendaraan listrik memang penting untuk menekan emisi, namun harus diikuti dengan perencanaan transportasi yang komprehensif. “Dikhawatirkan, jika transisi ke kendaraan listrik dilakukan terlalu cepat tanpa perencanaan matang, justru akan terjadi akselerasi volume kendaraan yang berujung pada kemacetan baru,” tambahnya. Lebih jauh, Jusri mengingatkan agar pemerintah tidak hanya fokus mempercepat adopsi kendaraan listrik tanpa melihat konteks kemacetan perkotaan. Dari total 1.077 sesi di GIIAS 2025, BinguoEV menjadi model yang paling banyak dicoba (63 persen), diikuti Cloud EV (17 persen), Air ev (15 persen), Alvez (3 persen), dan Almaz (2 persen). “Jangan hanya fokus mempercepat orang berpindah ke kendaraan listrik. Waktunya pemerintah meninjau ulang kebijakan ganjil-genap dan menghentikan hak khusus untuk kendaraan listrik,” katanya. Ganjil-genap dan Mobil Listrik Kebijakan ganjil-genap (gage) pertama kali diterapkan di Jakarta pada 2016 sebagai langkah menggantikan sistem three-in-one yang dinilai tidak efektif. Tujuannya sederhana yaitu membatasi jumlah kendaraan pribadi di ruas jalan utama agar lalu lintas lebih lancar. Aturan ini membagi hari berdasarkan angka terakhir pelat nomor kendaraan, di mana pelat ganjil untuk tanggal ganjil, genap untuk tanggal genap. Kendaraan bermotor melambat akibat terjebak kemacetan di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (8/8/2019). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk memperluas sistem pembatasan kendaraan bermotor berdasarkan nomor polisi ganjil dan genap. Sosialisasi perluasan ganjil genap dimulai dari 7 Agustus hingga 8 September 2019. Kemudian, uji coba di ruas jalan tambahan dimulai pada 12 Agustus sampai 6 September 2019. Dalam pelaksanaannya, kebijakan ini terbukti mampu menurunkan kepadatan lalu lintas hingga 30 persen di beberapa koridor utama Jakarta. Namun, sejak 2019, pemerintah memberikan keistimewaan bagi kendaraan listrik dengan membebaskannya dari aturan ganjil-genap. Tujuannya untuk mendorong percepatan adopsi kendaraan ramah lingkungan dan mengurangi polusi udara. Kini setelah jumlah mobil listrik meningkat di jalan raya, sejumlah pihak mulai menilai bahwa keistimewaan bebas gage bagi EV perlu ditinjau kembali agar tujuan utamanya tetap relevan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.