Mobil listrik atau electric vehicle (EV) semakin dilirik sebagai solusi mobilitas, terutama saat pasokan bahan bakar minyak (BBM) terbatas. Tanpa bergantung pada BBM, kendaraan ini menawarkan alternatif yang lebih praktis untuk tetap beraktivitas. Namun, di balik keunggulan tersebut, EV memiliki karakter berbeda dibanding mobil konvensional, sehingga membutuhkan perhatian khusus saat mengemudi. Marcell Kurniawan, Training Director dari The Real Driving Centre(RDC) mengatakan, kendaraan listrik atau EV umumnya memiliki bobot lebih berat karena baterai besar yang menopang sistem kelistrikan. Test drive mobil listrik Toyota Urban Cruiser di Astra Auto Fest 2025 “Dalam hal safety, pastikan perhatikan bahwa EV memiliki bobot yang lebih berat daripada mobil konvensional. Jadi berpengaruh pada stabilitas saat belok dan jarak pengereman,” kata Marcell kepada Kompas.com, baru-baru ini. Ia juga mengatakan, bobot tambahan tersebut menuntut pengemudi untuk menyesuaikan cara berkendara, terutama dalam menjaga kecepatan dan memperkirakan jarak aman saat melaju maupun menikung. “Jadi beri jarak aman untuk dapat ngerem tepat waktu dan jarak, serta jaga kecepatan di tikungan,” kata Marcell. Selain itu, mobil listrik juga dikenal memiliki torsi instan yang membuat akselerasi sangat responsif. Jika tidak diimbangi dengan kontrol dan pemahaman karakter kendaraan, kondisi ini justru bisa membahayakan, terutama di jalan padat atau saat cuaca buruk. Karena itu, Marcell menyarankan agar pengemudi EV lebih berhati-hati dan tidak menyamakan perlakuannya dengan mobil konvensional. Edukasi serta pelatihan berkendara juga menjadi hal penting, terutama bagi pengguna yang baru pertama kali beralih ke kendaraan listrik. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang