Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut pabrik baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di Karawang, Jawa Barat, ditargetkan bakal diresmikan pada semester I/2026. Pabrik baterai terintegrasi tersebut dikembangkan oleh Antam, konsorsium Indonesia Battery Corporation (IBC), serta konsorsium perusahaan China yang terdiri dari CATL, Brunp, dan Lygend. “Ekosistem baterai mobil yang di-groundbreaking oleh Bapak Presiden Prabowo di Karawang kemarin, direncanakan diresmikan pada semester I 2026,” ujar Bahlil dalam konferensi pers Capaian Kinerja Kementerian ESDM 2025 dikutip Selasa (12/1/2026). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (8/1/2026). Dengan beroperasinya fasilitas tersebut, Indonesia akan memiliki dua pabrik ekosistem baterai kendaraan listrik berbasis nikel yang terintegrasi. “Artinya, nanti sudah ada dua pabrik baterai kita di Indonesia yang berbasis ekosistem nikel,” kata Bahlil. Proyek baterai ini merupakan bagian dari agenda hilirisasi mineral strategis yang diarahkan pemerintah. Fokus utamanya adalah meningkatkan nilai tambah nikel melalui industri manufaktur baterai kendaraan listrik. Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya menyatakan proyek ini berpotensi menciptakan nilai tambah besar bagi perekonomian nasional. Dengan nilai investasi tersebut, pemerintah memperkirakan potensi dampak ekonomi bisa mencapai 48 miliar dolar AS atau sekitar Rp 776 triliun. Menurutnya, nilai tambah yang dihasilkan diperkirakan mencapai delapan kali lipat dari nilai investasi awal. Manfaat ekonomi proyek ini tidak hanya dirasakan di Jawa Barat dan Maluku Utara, tetapi juga di wilayah lain yang terlibat dalam rantai pasok ekosistem baterai. Baterai mobil listrik Toyota bZ4X. Dari sisi ketenagakerjaan, proyek ini diperkirakan menciptakan sekitar 8.000 lapangan kerja langsung dan sekitar 35.000 tenaga kerja tidak langsung. Pabrik baterai ini memiliki kapasitas produksi maksimal hingga 15 GWh. Kapasitas tersebut diproyeksikan mampu memasok kebutuhan baterai untuk sekitar 250.000 hingga 300.000 kendaraan listrik. Selain itu, keberadaan pabrik baterai ini juga berpotensi menghemat impor BBM hingga sekitar 300.000 kiloliter. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang