JAKARTA, KOMPAS.com - Seiring meningkatnya popularitas mobil listrik, tak sedikit pengguna mobil konvensional beralih ke kendaraan ramah lingkungan ini. Salah satunya Hakim, warga Cirebon, yang kini aktif menggunakan mobil listrik Neta V-II untuk beragam aktivitasnya. Hakim mengaku telah menggunakan Neta V-II sejak 7 November 2024. Keputusannya memilih mobil listrik tersebut didasari pertimbangan harga yang paling bersahabat di kelas mobil listrik "entry level" pada saat itu. "Saya menggunakan mobil ini sejak 7 November 2024. Kenapa memutuskan beli mobil ini? Karena menurut saya di waktu tersebut, mobil listrik 'entry level' dengan harga paling bersahabat adalah Neta V-II," katanya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (22/12/2025). Setelah menelaah lebih jauh mengenai keunggulan Neta V-II, Hakim semakin yakin bahwa mobil tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Kini, Neta V-II menjadi satu-satunya kendaraan roda empat di rumahnya, menggantikan mobil LCGC 1200cc tiga baris yang sebelumnya ia gunakan. Sering ke Luar Kota Berbeda dari kebanyakan pengguna mobil listrik yang memanfaatkannya untuk perjalanan dalam kota, Hakim justru lebih sering menggunakan Neta V-II untuk perjalanan ke luar kota. "Dalam kota mungkin di bawah 10 persen. Saya justru lebih sering pakai mobil ini untuk luar kota (dan dominan lewat tol). Untuk mengisi daya, saya berupaya mengisi baterai 100 persen penuh dari rumah. Apabila diperlukan tambahan daya, baru mengisi di SPKLU yang sudah tersebar di sepanjang rest area," cerita Hakim. Mobil Listrik Neta V-II milik Hakim Saat pertama kali membeli mobil ini di salah satu diler di Citra Raya, Hakim langsung melakukan perjalanan ke daerah Papandayan, Garut. Pada bulan Desember, mobil ini kembali digunakan untuk perjalanan ke Singaraja (Bali), dilanjutkan ke Mandalika (Lombok), lalu kembali ke Bali untuk liburan Tahun Baru 2025. "Ke Yogyakarta dan Semarang juga sering. Saya domisili di Kota Cirebon," katanya. Setelah setahun penggunaan, Hakim menilai mobil listrik Neta V-II sangat irit, bahkan konsumsi dayanya separuh dari mobil bermesin pembakaran internal (ICE). Untuk pajak kendaraan bermotor (PKB) tahun ini, Hakim hanya membayar SWDKLLJ sebesar Rp 143.000, sementara PKB-nya masih Rp 0. II dilengkapi fitur ADAS (Advanced Driver Assistance Systems) yang cukup lengkap dan membantu saat berkendara di jalan tol. "Dengan harga di bawah Rp 300 juta sudah ada fitur E-pedal, sehingga cukup memudahkan saat mengemudi di kemacetan. Tidak perlu memindahkan kaki dari pedal akselerasi ke pedal rem, cukup angkat kaki sedikit dari pedal akselerasi saja mobil sudah bisa melambat," katanya. Mobil Neta V-II milik Hakim Hakim juga menuturkan layar di unit hiburan mobil ini berukuran besar, yakni 14,6 inci. Bagasi Neta V-II juga dinilai lapang jika dibandingkan mobil lain di bawah Rp 300 juta pada periode yang sama. Saat ini, Neta V-II masih mendapatkan gratis servis hingga 50.000 kilometer. Kekurangan Namun, terdapat beberapa kekurangan. Salah satunya adalah restrukturisasi yang sedang dilakukan Neta di Tiongkok, yang berakibat pada penutupan banyak diler dan penurunan minat pembeli mobil Neta. "Kemudian, belum ada pembaruan perangkat lunak (software). Lalu, ada keluhan fitur AEB (Automatic Emergency Breaking) yang belum bisa dimatikan secara permanen, harus dimatikan setiap kali menghidupkan kendaraan. Hal ini mungkin bisa diatasi melalui pembaruan perangkat lunak," ucap Hakim. Meskipun jumlah diler Neta berkurang, Hakim menambahkan bahwa pihak prinsipal Neta Auto Indonesia (NAI) telah menjalin kerja sama dengan Otoklix dan bengkel rekanan Otoklix untuk menyediakan layanan servis berkala bagi seluruh pelanggan Neta di Indonesia. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang