Neta V II merupakan salah satu mobil listrik perkotaan yang ringkas. Tapi di tangan Gregorius, dia mengubah mobilnya dengan gaya rally look. Ubahan ini tak hanya mengubah tampilan, tetapi juga meningkatkan kenyamanan dan keamanan untuk penggunaan harian. Dari sisi tampilan, terlihat ada penggunaan stiker grafis di bagian samping dengan aksen merah dan kepet. Serta desain velg yang menyerupai gaya mobil reli, yang aslinya dari Honda Accord Maestro. Gregorius, pemilik Neta V II yang dia beli dengan harga Rp 185 juta Gregorius juga menambahkan cross bar di bagian atap. Selain memperkuat kesan petualang, komponen ini juga berfungsi untuk membawa barang tambahan. Di bagian depan, terdapat lampu tambahan yang dipasang pada bumper. Fitur ini membantu visibilitas saat berkendara, terutama di kondisi jalan minim penerangan. Masuk ke sektor kaki-kaki, perubahan dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan. Velg bawaan ring 16 diganti menjadi ring 15 dan dipadukan dengan ban lebih tebal. Gregorius, pemilik Neta V II yang dia beli dengan harga Rp 185 juta “Velg saya kecilin, ban saya tebalin biar lebih nyaman,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (7/4/2026). Meski mengusung konsep rally, ia belum menggunakan ban all terrain (A/T). Menurutnya, ban jenis tersebut cenderung berisik dan bisa mengganggu kenyamanan kabin. “Sempat mau pakai A/T, tapi takut diomelin istri karena berisik,” kata dia. Gregorius, pemilik Neta V II yang dia beli dengan harga Rp 185 juta Selain itu, ia juga menambahkan buffer pada per untuk mengurangi efek suspensi belakang Neta V II yang terlalu empuk. Ia menyebut, karakter bawaan mobil terasa terlalu mengayun saat melintasi jalan bergelombang. Salah satu perhatian utama ada pada ground clearance yang dinilai terlalu rendah. Kondisi ini membuat risiko bagian bawah mobil, termasuk baterai, mudah membentur aspal atau polisi tidur. “Ground clearance-nya pendek, jadi risiko baterai kepentok itu tinggi,” ucap Gregorius. Untuk mengatasinya, ia memasang lift kit yang meningkatkan tinggi mobil sekitar 2,5 cm. Dengan ubahan ini, jarak ke tanah menjadi lebih aman untuk penggunaan di jalanan Indonesia yang tidak selalu mulus. Dari sisi keamanan, ia juga menambahkan bumper guard depan dan belakang. Komponen ini sekaligus menjadi antisipasi dari fitur Automatic Emergency Braking (AEB) yang dinilai terlalu sensitif. Menurut Gregorius, karakter AEB pada mobil ini kurang cocok dengan kondisi lalu lintas di Indonesia yang padat dan dinamis. Sistem dapat membaca objek di depan secara agresif, termasuk sepeda motor yang sering berpindah jalur secara tiba-tiba. Gregorius, pemilik Neta V II yang dia beli dengan harga Rp 185 juta “Motor suka nyelonong, mobil jadi ngerem sendiri. Yang di belakang enggak siap, akhirnya kesundul,” kata dia. Karena itu, ia membiasakan mematikan fitur tersebut sebelum berkendara. Sementara bumper tambahan dipasang sebagai perlindungan ekstra jika terjadi benturan akibat pengereman mendadak. Menurut Gregorius, seluruh modifikasi tersebut difokuskan pada kenyamanan keluarga. Mengingat mobil ini lebih sering digunakan untuk aktivitas harian bersama istri dan anak. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang