Kekhawatiran soal minimnya infrastruktur pengisian kendaraan listrik atau stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) masih kerap menjadi alasan masyarakat ragu beralih ke mobil listrik. Namun, pengamat otomotif Hendra Noor Saleh menilai kekhawatiran tersebut tidak sepenuhnya tepat jika dilihat dari perspektif ekonomi. Menurut Hendra, perkembangan infrastruktur pada dasarnya akan mengikuti kebutuhan pasar. Ia merujuk pada prinsip ekonomi klasik yang menyebutkan bahwa peningkatan permintaan akan mendorong penyesuaian pasokan. “Ketika permintaan meningkat, pasokan akan mengikuti,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (25/4/2026). Ia menjelaskan, kondisi SPKLU yang saat ini dinilai masih terbatas bukan berarti menjadi hambatan permanen. SPKLU di Rest Area Travoy KM 88A Jalan Tol Cipularang Justru, jumlah kendaraan listrik yang sebelumnya relatif sedikit membuat pembangunan infrastruktur belum berkembang pesat. “Kenapa dulu SPKLU belum banyak? Karena jumlah mobil listriknya masih sedikit. Tapi kalau permintaan naik, pasti akan ikut berkembang,” kata dia. Seiring meningkatnya adopsi kendaraan listrik, pembangunan SPKLU pun mulai menunjukkan tren pertumbuhan. SPKLU Astra Infra Per awal 2026, jumlah SPKLU di Indonesia tercatat mencapai 4.769 unit yang tersebar di 3.097 titik lokasi. Pengembangan infrastruktur ini terus dilakukan oleh PT PLN (Persero), dengan fokus pada sebaran di jalur strategis seperti Tol Trans Sumatra dan Jawa. Kehadiran SPKLU di berbagai lokasi tersebut menjadi indikator bahwa infrastruktur mulai bergerak mengikuti kebutuhan pengguna. Pada momen tertentu seperti arus mudik, jarak antar-SPKLU di sejumlah ruas jalan utama juga semakin rapat. Selain SPKLU publik, Hendra menyoroti tren penggunaan pengisian daya di rumah (home charging) yang kian umum. Menurut dia, fasilitas ini mampu mengurangi ketergantungan pengguna terhadap SPKLU, terutama untuk kebutuhan harian. “Sekarang orang beli mobil listrik, banyak yang sudah dapat home charging. Bahkan ada yang rela bayar pasang di rumah karena dipakai jangka panjang,” ujarnya. Dengan pola tersebut, pengguna kendaraan listrik dinilai tidak selalu bergantung pada SPKLU. Pengisian daya di rumah justru dianggap lebih praktis dan efisien untuk penggunaan sehari-hari. Hendra menegaskan, kekhawatiran terhadap infrastruktur seharusnya tidak menjadi penghalang utama. Selama tren permintaan kendaraan listrik terus meningkat, ekosistem pendukungnya akan berkembang seiring kebutuhan pasar, sebagaimana terjadi pada infrastruktur otomotif sebelumnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang