PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) selaku distributor resmi kendaraan niaga Mitsubishi Fuso di Indonesia, mencoba realistis dalam menatap pasar kendaraan komersial sepanjang tahun 2026. Meski sempat mematok target yang cukup positif di akhir tahun lalu, perkembangan situasi ekonomi dan geopolitik global saat ini menuntut para pelaku industri untuk lebih mawas diri. Aji Jaya, Sales & Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), mengatakan, awalnya pada bulan Desember, pihaknya sudah mencoba kalkulasi, mencoba memprediksi situasi kondisi pasar kendaraan komersial di tahun 2026. Fasilitas perakitan Mitsubishi Fuso di PT. Krama Yudha Ratu Motor (KRM) dan PT Mitsubishi Krama Yudha Motors and Manufacturing (MKM). "Pada saat itu, kita memprediksikan bahwa situasi di 2026 untuk pasar kendaraan komersial ini kurang lebih sebenarnya hampir sama dengan tahun 2025," ujar Aji, di Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo (Giicomvec) 2026, di Jakarta, Rabu (8/4/2026). Optimisme tersebut bukan tanpa dasar. Sejumlah sektor penopang ekonomi dinilai masih menunjukkan tren positif yang membutuhkan dukungan armada transportasi tangguh. Booth Mitsubishi Fuso di Giicomvec 2026 "Walaupun, memang ada beberapa sektor bisnis yang memang masih menjadi potensi melakukan pembelian, misalnya logistik, manufaktur, infrastruktur, maka kita asumsikan kita sedikit optimistis, kurang lebih sama, tapi pasti ada pertumbuhan jika dibanding tahun 2025," kata Aji. Angin segar bagi pasar kendaraan niaga juga datang dari adanya proyek strategis nasional yang berskala besar. Booth Mitsubishi Fuso di GIIAS 2025 Aji menambahkan, dengan adanya proyek Koperasi Desa Merah Putih yang membutuhkan kendaraan niaga dalam jumlah besar, maka pasti akan berdampak kepada pasar kendaraan komersial secara keseluruhan. Namun, di tengah potensi pertumbuhan tersebut, muncul tantangan dari faktor eksternal yang berada di luar kendali industri dalam negeri. Booth Mitsubishi Fuso di GIIAS 2025 Kondisi ini yang kemudian membuat KTB harus kembali memasang mode waspada. Selain itu, menurut Aji, tidak bisa dikesampingkan juga isu geopolitik, seperti konflik di Timur Tengah, yang saat ini sedang terjadi. Isu tersebut bisa berdampak pada aktivitas bisnis di Indonesia. "Jika aktivitas bisnis sudah terdampak, pasti akan berdampak juga pada kebutuhan atau permintaan kendaraan komersial. Jadi, awalnya kami optimistis dengan beberapa sektor bisnis yang masih memberikan kontribusi kepada pembelian kendaraan komersial di 2026," ujar Aji. Kini, fokus KTB adalah menjaga keseimbangan antara memitigasi risiko biaya produksi yang membengkak dengan upaya pemenuhan kebutuhan pasar yang tetap ada. "Jadi, asumsi kita sedikit lebih baik dibanding 2025, ditambah lagi ada proyek pemerintah tadi. Tapi, kita masih harus hati-hati dengan situasi yang terjadi akhir-akhir ini, seperti kenaikan bahan bakar, kenaikan bahan baku, dan lain sebagainya," kata Aji. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang