Neta masih mencoba menjaga napas di tengah kompetisi ketat mobil listrik di Indonesia. Meski beberapa jaringan diler mereka tutup, hingga kini hanya menyisakan dua diler aktif yang benar-benar berjalan. Ada dua model yang menjadi tumpuan mereka saat ini, yakni Neta V-II dan Neta X, masing-masing menyasar segmen berbeda namun sama-sama mengandalkan kepraktisan dan harga yang kompetitif. Neta V-II menjadi model yang paling mudah dijangkau konsumen. Neta V-II Urban Sports Concept di IIMS 2025 Mobil ini dibanderol sekitar Rp 299 juta (OTR Jakarta), dengan posisi harga yang jelas diarahkan untuk mencuri perhatian pembeli EV pemula. Dimensinya kompak, cocok untuk penggunaan harian di perkotaan, sementara interiornya dirancang untuk lima penumpang. Model ini memakai baterai LFP berkapasitas 36,1 kWh, dengan klaim jarak tempuh hingga 400 kilometer dalam sekali pengisian daya. Klaim tersebut tentu cukup menarik bagi pengguna yang masih ragu dengan kemampuan jarak jauh mobil listrik. Test Drive Neta X di Jakarta Secara fitur, V-II hadir dengan tampilan eksterior baru yang lebih segar, termasuk lampu LED dan pelek 16 inci. Varian tertingginya dibekali sistem bantuan berkendara (ADAS) yang mencakup sembilan fungsi, mulai dari peringatan tabrakan, pengereman darurat otomatis, hingga lane keeping assist. Neta juga menegaskan bahwa V-II sudah dirakit lokal di pabrik PT Handal Indonesia Motor (HIM) di Bekasi, langkah yang membuat biaya produksi menjadi lebih efisien dan harga lebih kompetitif. Berbeda dengan V-II yang sederhana dan ringkas, Neta X berada satu tingkat lebih tinggi, baik dari sisi ukuran maupun kemampuan teknis. Mobil listrik ini dipasarkan mulai Rp 428 juta dan membawa baterai lebih besar, yakni 63,56 kWh, yang memungkinkan jarak tempuh mencapai 480 kilometer. Diler Neta yang berdiri di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Tenaga puncaknya mencapai 161 kW dengan torsi 210 Nm, membuat akselerasinya terasa lebih bertenaga dan nyaman digunakan di jalan tol. Neta X juga hadir dengan fitur yang lebih lengkap. Interiornya menggunakan layar besar yang sekaligus bisa menjadi kendali pengemudi untuk mengontrol berbagai fitur. Konsumen juga mendapat kenyamanan tambahan seperti wireless charging, setir D-shaped, serta fitur Vehicle-to-Load (V2L) yang memungkinkan mobil menjadi sumber listrik untuk peralatan eksternal. Namun, perkembangan produk yang cukup agresif ini berjalan beriringan dengan dinamika di jaringan penjualan mereka. Walaupun Neta berupaya memperkuat eksistensinya lewat produksi lokal, pasar yang makin sesak oleh merek-merek asal China lainnya membuat tekanan turut terasa. Salah satu momen yang paling mencuat adalah penutupan diler Neta di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada April 2025. Diler tersebut sebelumnya menjadi etalase utama Neta ketika pertama kali masuk ke Indonesia pada 2023. Penutupannya, kurang dari dua tahun sejak dibuka, memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi ekspansi mereka. Pihak Neta menyebut bahwa langkah ini merupakan bagian dari penataan strategi bisnis dan memastikan layanan purnajual tetap dapat diakses melalui diler resmi lainnya. Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan diler mereka kini jauh lebih ramping, hanya menyisakan dua titik layanan utama. Kondisi ini tentu membuat konsumen perlu lebih teliti, terutama bagi mereka yang mempertimbangkan membeli mobil listrik sebagai kendaraan harian yang membutuhkan kepastian layanan servis berkala dan ketersediaan suku cadang. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang