Di tengah persaingan mobil listrik yang semakin padat di Indonesia, Changan Indonesia bersama Indomobil Group mulai menyiapkan strategi serius untuk memperluas pasar kendaraan elektrifikasinya. Tidak hanya fokus di Jakarta, Changan kini mulai agresif membangun jaringan diler, menggelar pameran kendaraan listrik di kota besar Indonesua, hingga menyiapkan SUV 7-seater khusus untuk pasar Indonesia. Menariknya, Indonesia bahkan disebut berpotensi menjadi negara pertama yang mendapatkan SUV 7-seater dari Changan. Langkah ini diambil karena pabrikan asal China tersebut melihat karakter konsumen Indonesia yang berbeda dibanding negara lain di Asia. Saat ini, model yang menjadi tulang punggung penjualan Changan masih dipegang oleh Lumin. Mobil listrik mungil itu disebut menyumbang sekitar 60 persen pemesanan selama pameran berlangsung. Mayoritas konsumennya pun datang dari pengguna mobil bensin atau ICE yang mulai beralih ke kendaraan listrik. Fenomena ini menjadi menarik karena menunjukkan bahwa pasar EV Indonesia mulai bergerak dari sekadar early adopter menuju konsumen umum yang sebelumnya masih mengandalkan mobil bensin konvensional. Deepal S05 Range-Extended Electric Vehicle. "Untuk mempercepat penetrasi pasar, Changan dan Indomobil juga mulai menggelar pameran khusus kendaraan listrik di berbagai kota besar. Berbeda dengan pameran biasa, expo ini hanya berisi kendaraan EV tanpa model bensin atau diesel," jelas CEO Changan Indonesia Setiawan Surya, di Jakarta, Senin (11/5/2026). Langkah tersebut dilakukan sebagai cara membaca respons pasar daerah terhadap kendaraan listrik, terlebih setelah harga BBM beberapa waktu terakhir mengalami kenaikan. “Idenya karena harga bahan bakar naik, jadi kita bikin pameran khusus EV semua,” ujar Setiawan. Setelah Jakarta, roadshow EV ini akan berlanjut ke Yogyakarta, Surabaya, hingga Bandung. Changan ingin melihat seberapa besar potensi pasar luar Jabodetabek, yang selama ini dinilai mulai jenuh oleh banyaknya merek EV baru. Ternyata, hasil awalnya cukup menarik. Selain Surabaya dan Bandung, Bali justru menjadi salah satu daerah dengan respons positif terhadap kendaraan listrik Changan. Uniknya, mayoritas pembeli di Bali disebut membeli untuk penggunaan pribadi, bukan kebutuhan rental atau fleet. Di sisi lain, Changan juga mulai mempercepat pengembangan jaringan dealer. Hingga akhir tahun, Changan menargetkan memiliki sekitar 20 diler di Indonesia. Sejumlah kota seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Bali, dan Yogyakarta sudah mulai dipersiapkan sebagai basis ekspansi. Namun yang paling menarik adalah rencana menghadirkan SUV 7-seater khusus Indonesia. Saat ini line-up global Changan mayoritas masih menggunakan konfigurasi 5 penumpang. Karena itu, Indonesia terus mendorong prinsipal untuk mengembangkan versi 7-seater dari model Q07. “Kalau di negara lain kebanyakan cukup 5-seater, tapi Indonesia berbeda,” ungkap Setiawan. Bila proyek tersebut berjalan sesuai rencana, maka Indonesia akan menjadi negara pertama yang memiliki mobil Changan denga konfigurasi 7-seater. Model itu diperkirakan paling cepat hadir tahun depan karena membutuhkan perubahan spesifikasi dan pengembangan ulang. Selain fokus pada EV murni, Changan juga mulai menyiapkan strategi lewat teknologi REEV atau Range Extended Electric Vehicle. Teknologi ini pada dasarnya tetap menggunakan motor listrik sebagai penggerak roda, sementara mesin bensin hanya bertugas sebagai generator pengisi daya baterai. Changan CS55 Plus HEV Konsep tersebut dinilai cocok untuk pasar Indonesia, khususnya daerah yang infrastruktur charging station-nya belum terlalu banyak. Konsumen tetap bisa merasakan sensasi mobil listrik, namun tanpa khawatir soal jarak tempuh. “Tujuan dari teknologi REEV ini adalah tetap efisiensi bahan bakar,” kata Setiawan. Meski begitu, Changan mengakui pasar EV Indonesia saat ini sangat sensitif terhadap harga. Selisih Rp 30 juta sampai Rp 50 juta saja disebut bisa membuat konsumen langsung berpindah merek. Karena itu, negosiasi harga dengan prinsipal masih terus dilakukan, termasuk untuk model baru seperti Deepal SO5 yang sedang dipersiapkan. Situasi tersebut membuat persaingan mobil listrik di Indonesia kini semakin mirip “perang harga”, terutama di tengah membanjirnya merek China dengan teknologi dan fitur yang relatif mirip. Di balik tantangan itu, Changan melihat satu hal penting: konsumen Indonesia kini semakin kritis sebelum membeli mobil. Mereka akan mencari review di media, membandingkan spesifikasi, hingga melakukan riset sendiri lewat internet sebelum mengambil keputusan. Namun justru di situ Changan melihat peluang. Ketika konsumen menemukan bahwa brand ini berada di bawah jaringan besar Indomobil dan memiliki dukungan global yang kuat, rasa percaya diri untuk membeli pun perlahan mulai tumbuh. Pelan tapi pasti, Changan tampaknya mulai menyiapkan fondasi serius untuk bertarung di pasar kendaraan listrik Indonesia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang