Ilustrasi Rally Dakar Ajang Rally Dakar kerap dipandang bukan sekadar perlombaan, melainkan laboratorium terbuka bagi industri otomotif global. Reli lintas medan ekstrem ini menjadi ruang uji nyata bagi teknologi kendaraan, ketahanan mesin, serta konsistensi performa dalam kondisi yang sulit direplikasi di fasilitas riset tertutup. Dengan lintasan gurun bersuhu tinggi, pasir halus, hingga jalur berbatu yang panjang, Dakar menghadirkan tekanan berlapis bagi kendaraan dan pembalap. Kondisi tersebut membuat setiap komponen diuji secara berkelanjutan, mulai dari mesin, sistem pendinginan, hingga efisiensi kerja mekanis.Dalam konteks inilah kehadiran mitra teknis di ajang motorsport ekstrem memiliki peran penting. Mereka tidak hanya mendukung operasional tim, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran teknologi yang bersifat aplikatif dan berkelanjutan. Managing Director PT Motul Indonesia Energy, Welmart Purba, menyebut Dakar sebagai panggung pembuktian yang tidak bisa disamakan dengan uji coba biasa.“Dakar adalah panggung pembuktian tertinggi bagi Motul. Semua klaim performa kami diuji secara nyata di sana, bukan di laboratorium,” ujarnya, dikutip VIVA Otomotif dari keterangan resmi, Kamis 8 Januari 2026. Menurutnya, pengalaman di Dakar memberikan data lapangan yang berharga bagi pengembangan teknologi otomotif. Tekanan ekstrem selama etape panjang memaksa setiap solusi teknis bekerja konsisten, tanpa ruang kompromi terhadap keandalan. Dukungan teknis di Dakar juga melibatkan pemantauan langsung terhadap kondisi kendaraan selama reli berlangsung. Melalui analisis oli harian dan evaluasi performa mesin, potensi masalah dapat terdeteksi lebih dini sebelum berdampak pada kegagalan teknis. “Ini yang membedakan Motul. Kami tidak hanya menjual produk, tetapi hadir langsung di lapangan, mendukung performa mesin secara teknis, dan menjadi bagian dari solusi di kondisi paling ekstrem,” jelas Welmart. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana motorsport berperan sebagai ruang pembelajaran praktis bagi industri.Selain aspek teknologi, Dakar juga menyoroti dimensi manusia dalam motorsport, terutama pada kategori Original yang mengandalkan kemandirian pembalap. Tanpa dukungan kru, setiap keputusan teknis dan strategi menjadi penentu keberhasilan.Keterlibatan pembalap Indonesia, Julian Johan atau Jejelogy, menambah perspektif lokal dalam ajang global tersebut. Kehadirannya menunjukkan bahwa pembelajaran dari motorsport ekstrem tidak hanya relevan bagi pabrikan besar, tetapi juga bagi talenta dari negara berkembang.“Ketika rider Indonesia seperti Jejelogy berani bermimpi ke Dakar, dan Motul ada di belakangnya, ini menjadi pesan kuat bagi market Indonesia,” kata Welmart. Ia menilai ajang ini mampu menjembatani teknologi global dengan aspirasi lokal.