Daftar Isi Data Penjualan LCGC 2014 sampai 2025 Popularitas LCGC dalam setahun belakangan mulai menurun. Penjualannya juga demikian. Lalu bagaimana nasib mobil LCGC tahun 2026?Angka penjualan LCGC sepanjang tahun 2025 yang merosot dibandingkan tahun sebelumnya. Daya beli yang turun dan kedatangan mobil-mobil China yang punya harga kompetitif punya peran besar dalam penurunan pasar mobil Low Cost Green Car (LCGC) ini.Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, pada tahun 2025 penjualan LCGC secara retail (dari dealer ke konsumen) hanya mencapai 130.799 unit, turun dari sebelumnya 178.726 unit. Pangsa pasarnya pun demikian. Pada tahun 2024, sebanyak 20,1% mobil yang terjual di Indonesia berjenis LCGC, sementara tahun lalu hanya 15,7%."Kita stagnan di kurang lebih 12 tahun semenjak 2013 LCEV (Low Cost Emission Vehicle) pak, itu hanya 1 juta aja. LCEV itu market share-nya sampai 22 persen, ini kemarin turun menjadi 15 persen," terang Sekjen Gaikindo, Kukuh Kumara, dalam EVolution Indonesia Forum yang digelar CNN Indonesia.Kalau dirunut sejak tahun 2013, LCGC memang merupakan salah satu model favorit di Indonesia. Terlebih harganya terjangkau dari keseluruhan segmen. Nggak heran kalau seperlima dari penjualan mobil di dalam negeri disumbang oleh model tersebut.Data Penjualan LCGC 2014 sampai 20252013: 45.348 unit, pangsa pasar 3,7 persen2014: 164.123 unit, pangsa pasar 13,6 persen2015: 166.517 unit, pangsa pasar 16,4 persen2016: 223.708 unit, pangsa pasar 21,1 persen2017: 242.680 unit, pangsa pasar 22,5 persen2018: 225.480 unit, pangsa pasar 19,6 persen2019: 221.006 unit, pangsa pasar 21,5 persen2020: 116.475 unit, pangsa pasar 21,9 persen2021: 145.219 unit, pangsa pasar 16,4 persen2022: 180.172 unit, pangsa pasar 17,8 persen2023: 198.564 unit, pangsa pasar 19,9 persen2024: 178.726 unit, pangsa pasar 20,1 persen2025: 130.799 unit, pangsa pasar 15,7 persenNamun, belakangan kondisi LCGC justru makin terhimpit. Konsumennya 'babak belur' dengan kondisi perekonomian saat ini. Para pembeli mobil pertama yang mengincar LCGC pun jadi mengurungkan niatnya."Kondisi ekonomi secara umum belum membaik, daya beli masih lemah (untuk kelas menengah bawah), apakah masih ada harapan penjualan LCGC karena segmen pasarnya paling terdampak kondisi ekonomi saat ini," urai pengamat otomotif Bebin Djuana kepada detikOto belum lama ini.Ditambah lagi, rival-rival baru berdatangan dari segmen kendaraan listrik. Menjanjikan biaya operasional lebih murah dan pajak jauh lebih rendah. LCGC yang sudah terbilang irit karena harus memenuhi syarat konsumsi BBM 1:20 itu kini bersaing dengan mobil listrik yang punya jarak tempuh 300 km.Pun biaya ngecasnya lebih murah, contohnya untuk mobil listrik dengan kapasitas baterai 30 kWh maka modal duit tak sampai Rp 75 ribu bisa ngecas full untuk jarak tempuh ratusan kilometer. Sebagai perbandingan, LCGC dengan konsumsi BBM 1:20 dan kapasitas tangki 30 liter bisa menempuh jarak 600 km. Biaya pengisian bensinnya bila menggunakan RON 92 Pertamax dengan harga saat ini (Rp 11.800/liter) keluar biaya sekitar Rp 354 ribu."Konsumen sudah paham bahwa EV biaya per km 70% lebih rendah dibanding LCGC. Tidak banyak yang tahu bahwa angka penjualan LCGC tahun lalu termasuk sebagian yang dititipkan produsen pada Gocar & Grabcar, entah tahun ini keduanya masih bisa menyerap LCGC lagi?" tutur Bebin.Lalu bagaimana nasib LCGC tahun 2026? Bebin menyebut pemerintah harus segera bergerak merilis kebijakan yang bisa mendongkrak daya beli masyarakat. Otomatis, ini juga akan berdampak pada penjualan mobil LCGC yang kebanyakan dibeli para pembeli mobil pertama. Bila tak ada kebijakan tersebut, maka sulit penjualan mobil bisa terkerek lagi. LCGC pun jadi makin babak belur.