Penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang sesuai dengan spesifikasi mesin menjadi salah satu hal penting dalam menjaga performa dan usia pakai mobil. Namun, masih banyak pemilik mobil yang memilih BBM berdasarkan harga tanpa mempertimbangkan kebutuhan mesin kendaraannya. Salah satu BBM yang kerap menjadi pilihan adalah Pertalite dengan Research Octane Number (RON) 90. Harganya yang lebih terjangkau dibandingkan Pertamax membuat bahan bakar ini banyak digunakan oleh pemilik mobil, termasuk untuk kendaraan keluaran terbaru. Padahal, mobil zaman sekarang pada umumnya direkomendasikan untuk menggunakan nilai oktan minimal RON 92. Namun, karena harga BBM yang terus melonjak, akhirnya banyak yang terpaksa beralih ke Pertalite. Rianto Syarif, Service Advisor Auto2000 Grand Depok City, mengatakan, penggunaan Pertalite sebenarnya masih bisa disesuaikan dengan jenis dan teknologi mobil. Antrean kendaraan yang sedang isi BBM Pertalite di SPBU Pajajaran 34.16102 "Mobil sekarang juga sebenarnya masih bisa, karena Pertalite itu masuknya ke bahan bakar tanpa timbal," ujar Rianto, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Penggunaan Pertalite Bergantung pada Jenis Mobil Rianto menjelaskan, mobil keluaran lama pada umumnya masih cocok menggunakan Pertalite karena kebutuhan nilai oktannya relatif lebih rendah dibandingkan dengan sejumlah mobil modern. Sementara itu, untuk mobil keluaran terbaru, penggunaan Pertalite tidak bisa disamaratakan. Pemilik kendaraan perlu memperhatikan spesifikasi mesin dan rekomendasi bahan bakar dari pabrikan agar proses pembakaran dapat berlangsung sesuai dengan rancangan mesin. Salah satu faktor yang membedakan jenis BBM adalah nilai oktan. Pertalite memiliki nilai RON 90, sedangkan Pertamax memiliki RON 92. Antrean pengisian BBM Pertalite di SPBU Pertamina, Padjajaran Bogor Perbedaan nilai oktan tersebut berkaitan dengan kemampuan bahan bakar dalam menahan tekanan dan panas sebelum terbakar secara tidak terkendali di dalam mesin. Semakin tinggi nilai oktan, semakin besar ketahanannya terhadap detonasi atau knocking. "Semakin tinggi nilai oktan, berarti semakin mudah untuk terbakar bahan bakarnya," kata Rianto. Dampak Penggunaan Pertalite pada Mesin Mobil Selain memengaruhi proses pembakaran, penggunaan BBM yang tidak sesuai dengan kebutuhan mesin juga dapat berdampak pada munculnya residu atau karbon di ruang bakar. Proses gurah mesin dengan memasukkan cairan pembersih kerak karbon ke dalam lubang busi Rianto mengatakan, penggunaan Pertalite pada mesin yang membutuhkan bahan bakar dengan nilai oktan lebih tinggi dapat menyebabkan timbulnya lebih banyak residu karbon. "Efeknya apa? Biasanya kalau misalkan pakai Pertalite itu lebih banyak timbul residu atau karbon," ujarnya. Karbon yang dihasilkan dari proses pembakaran tersebut dapat menumpuk di ruang bakar apabila tidak terbuang secara sempurna. Jika dibiarkan, penumpukan karbon berpotensi mengganggu proses pembakaran dan memengaruhi kinerja mesin. Suzuki Ertiga yang turun mesin karena overheat Selain itu, penggunaan BBM dengan nilai oktan yang tidak sesuai juga dapat meningkatkan risiko terjadinya knocking atau yang biasa dikenal dengan istilah ngelitik. "Karena efek pembakaran itu jadinya karbon, sisa yang terbakar itu enggak terbuang dengan sempurna, jadinya timbul knocking atau ngelitik," ujar Rianto. Knocking terjadi ketika pembakaran campuran udara dan bahan bakar berlangsung secara tidak terkendali, sehingga menimbulkan suara ketukan dari dalam mesin. Kondisi ini dapat mengganggu kinerja mesin dan, jika terjadi terus-menerus dalam kondisi berat, berpotensi menyebabkan kerusakan pada komponen mesin. Oleh karena itu, pemilik mobil sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan harga BBM, tetapi juga menyesuaikannya dengan kebutuhan mesin. Penggunaan bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan dapat membantu menjaga proses pembakaran tetap optimal, sekaligus mempertahankan performa dan keawetan mesin dalam jangka panjang.