Penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi pada pertengahan April 2026 memicu perubahan perilaku pengguna kendaraan di Indonesia. PT Pertamina Patra Niaga mencatat adanya pergeseran konsumsi masyarakat yang kian beralih ke BBM subsidi seperti Pertalite. Dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (22/7/2026), Director of Regional Marketing PT Pertamina Patra Niaga Subholding Commercial & Trading Eko Ricky Susanto, mengungkapkan bahwa porsi konsumsi Pertalite melonjak dari 75 persen menjadi 80 persen. Di sisi lain, penjualan produk Pertamax Series justru merosot hingga sekitar 18 persen. Pengendara antre membeli BBM jenis pertalite di salah satu SPBU di Medan, Sumatera Utara, Kamis (16/7/2026). PT Pertamina Patra Niaga berupaya melakukan normalisasi antrean panjang dengan menambah jam operasional menjadi 24 jam dan menambah sebanyak 30 unit mobil tangki BBM untuk disalurkan ke sejumlah SPBU yang ada di wilayah Sumatera Utara. Fenomena ini membuat tidak sedikit pemilik sepeda motor modern memilih beralih mengisi bahan bakar dengan oktan lebih rendah demi menghemat pengeluaran harian. Lantas, apa dampaknya bagi kesehatan mesin motor jika unit berkompresi tinggi dipaksa "minum" Pertalite? Bahaya Detonasi dan Penumpukan Deposit Secara teknis, sepeda motor keluaran terbaru rata-rata sudah dibekali rasio kompresi mesin di atas 11:1. Mesin dengan spesifikasi ini idealnya membutuhkan bahan bakar beroktan minimal RON 92 (sekelas Pertamax) agar proses pembakaran di ruang bakar berlangsung sempurna. Technical & Service Education PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) Ferry Nurul Fajar, menjelaskan bahwa penggunaan BBM oktan rendah pada mesin berkompresi tinggi akan memicu masalah pada sistem pembakaran. "Oktan rendah di kompresi tinggi itu bikin detonasi atau knocking karena bahan bakar cepat terbakar," ujar Ferry kepada Kompas.com, Kamis (23/7/2026). Ferry menambahkan, timbulnya gejala knocking (ngelitik) menandakan pembakaran terjadi tidak sempurna. Efek berantai dari kondisi ini adalah penurunan performa mesin serta munculnya penumpukan deposit kerak karbon di dalam ruang bakar. Antrean kendaraan yang sedang isi BBM Pertalite di SPBU Pajajaran 34.16102 "Pembakaran yang tidak sempurna menyebabkan performa yang kurang, dan terjadi penumpukan deposit. Penumpukan deposit biasanya ada kerak karbon di ruang bakar, kalau sudah parah biasanya keliatan di busi," kata dia. Efek Jangka Panjang: Oli Cepat Berkurang hingga Turun Mesin Meski dampaknya tidak langsung terasa seketika saat baru berganti BBM, pembiaran dalam jangka panjang dapat merusak komponen internal mesin secara permanen. Kerak karbon yang menumpuk di ruang bakar lambat laun bisa rontok dan bergesekan langsung dengan komponen vital lain. "Kalau dibiarkan, ring piston akan aus atau lemah, bahkan kerak karbon yang rontok bisa menggores dinding cylinder," tegas Ferry. Imbas dari ausnya ring piston dan tergoresnya dinding silinder adalah terjadinya kebocoran kompresi serta penguapan oli mesin yang abnormal. Gejala yang paling sering ditemui pemilik motor adalah oli mesin yang cepat berkurang karena ikut terbakar di ruang bakar.