Tren penggunaan mobil listrik di Indonesia terus mengalami peningkatan seiring semakin banyaknya pilihan model dan berkembangnya infrastruktur pengisian daya. Namun di balik popularitas tersebut, pemilik kendaraan listrik juga dituntut lebih memahami pola penggunaan dan perawatan baterai agar performanya tetap optimal dalam jangka panjang. Salah satu kebiasaan yang kerap dianggap sepele tetapi bisa berdampak pada umur baterai ialah terlalu sering membiarkan daya tersisa hingga mendekati nol persen. Degradasi Baterai Mahaendra Gofar, pendiri EVSafe, mengatakan bahwa level baterai ekstrem menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat degradasi baterai kendaraan listrik. Menurut dia, terlalu sering membiarkan baterai berada di level sangat rendah dapat memberikan tekanan lebih besar pada sel baterai dalam jangka panjang. “Level baterai ekstrem atau depth of discharge menjadi salah satu faktor yang mempercepat degradasi. Terlalu sering diisi hingga 100 persen atau dibiarkan sampai 0 persen kurang baik untuk kesehatan baterai,” kata Mahaendra kepada Kompas.com, Jumat (15/5/2026). SPKLU Astra Infra Ia menjelaskan, baterai mobil listrik bekerja paling optimal ketika berada pada rentang level daya tertentu. Karena itu, pengguna disarankan tidak membiasakan kendaraan berada dalam kondisi terlalu kosong sebelum melakukan pengisian ulang. Selain membuat performa baterai menurun lebih cepat, kondisi daya yang terlalu rendah juga dapat meningkatkan risiko baterai mengalami stres termal, terutama jika kendaraan langsung diisi menggunakan fast charging. Range Anxiety Di sisi lain, kebiasaan membiarkan baterai terlalu kosong juga bisa berdampak pada kenyamanan penggunaan kendaraan sehari-hari. Pengemudi menjadi lebih rentan mengalami range anxiety atau kekhawatiran kehabisan daya di tengah perjalanan. Untuk penggunaan harian, banyak pabrikan maupun pemerhati kendaraan listrik menyarankan level baterai dijaga di kisaran 20 persen hingga 80 persen agar kondisi sel baterai lebih stabil dan umur pakainya lebih panjang. Selain level baterai, Mahaendra juga menyebut suhu ekstrem, penggunaan fast charging terlalu sering, siklus isi-pakai, hingga faktor usia sebagai penyebab utama degradasi baterai mobil listrik. Meski demikian, ia menegaskan bahwa degradasi baterai merupakan proses alami yang pasti terjadi seiring waktu. Hanya saja, pola penggunaan yang tepat dapat membantu memperlambat penurunan performanya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang