Overheating atau panas berlebih kerap terjadi pada kendaraan roda empat bermesin bakar (ICE). Sebenarnya, di mobil sudah tersedia sistem pendingin mesin, berupa air dan radiator untuk mengoptimalkan proses pendinginan. Air biasa bisa dijadikan sebagai cairan pendingin karena karakternya yang dapat menyerap panas dari mesin, dan melepas panas di radiator. Meski demikian, sebagian pihak menyarankan untuk menggunakan coolant untuk mengisi radiator karena dianggap dapat mencegah terjadinya overheating. Lantas, apakah dengan tak memakai coolant, mesin bakal panas berlebih? Imun, pemilik bengkel Spesialis Ford Trucuk Klaten mengatakan tak memakai coolant untuk radiator tak selalu menyebabkan mobil overheating, tapi tak disarankan untuk jangka panjang. “Dampak tak memakai coolant tidak instan, sehingga bisa saja mobil sehat untuk saat ini, tapi efek jangka panjangnya seperti apa, itu yang perlu dipikirkan, meski bisa untuk mengisi radiator, ada beberapa karakter coolant yang tak dimiliki air biasa,” ucap Imun kepada KOMPAS.com, Senin (5/1/2026). Air biasa berpeluang mendidih di suhu kerja mesin yang sangat tinggi, maka dari itu butuh formula khusus, salah satunya zat anti didih yang terdapat pada coolant. Ilustrasi air coolant warna-warni. “Selain itu, coolant juga mengandung anti karat dan pembersih, sehingga dapat menjaga saluran radiator tetap bersih, aliran yang baik akan mengoptimalkan proses pendinginan,” ucap Imun. Foreman Nissan Bogor Fandi Ahmad, mengatakan air pendingin mesin membutuhkan kemampuan bertahan di suhu panas, sehingga perlu dicampur dengan coolant. “Coolant merupakan formula khusus yang didesain untuk pendingin mesin mobil, dia akan membuat air pendingin tetap berwujud cair di suhu yang sangat panas, karena titik didihnya jadi lebih tinggi” ucap Fandi kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Ilustrasi radiator pada mobil. Coolant mengandung zat aditif yang bisa membuat air tetap dalam keadaan cair meski sudah melewati suhu 100 derajat celcius. Sementara air biasa pasti akan mendidih pada suhu tersebut. “Suhu mesin bisa sangat tinggi, maka dari itu membutuhkan cairan dengan titik didih lebih tinggi agar tidak mudah menguap dan cepat habis, bila air radiator habis pendinginan mesin tidak akan terjadi,” ucap Fandi. Fandi mengatakan, overheating akan terjadi bila memang kondisi air radiator habis. Itu sebabnya pada kondisi tertentu mobil tak mengalami panas berlebih meski radiator pakai air biasa. Dengan tidak memakai coolant untuk mengisi radiator, akan meningkatkan peluang terjadinya overheating. Bukan berarti bakal terjadi secara langsung dampaknya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang