Nama BAIC mungkin belum sepopuler BYD atau Wuling di Indonesia, namun pabrikan otomotif asal Beijing ini sesungguhnya memiliki warisan yang sangat kuat. an, pabrikan telah memproduksi kendaraan militer hingga sipil. Salah satu model legendarisnya, BJ212 yang dikenal sebagai SUV tangguh dan kemudian membentuk identitas BAIC sebagai produsen kendaraan off-road berkarakter tegas. Reputasi tersebut tetap melekat hingga sekarang melalui keluarga BJ-Series, sehingga BAIC sering dipandang sebagai 'pabrikannya mobil adventure' di China. BAIC BJ40 Pro REEV Namun, mereka tidak berhenti pada pengembangan kendaraan yang serba tangguh. Dalam satu dekade terakhir, perusahaan yang dimiliki Beijing Municipal Government (BUMD) ini mengambil langkah besar menuju elektrifikasi. Transformasi tersebut diwujudkan melalui kelahiran dua sub-brand yang memainkan peran berbeda dalam strateginya, yakni Arcfox dan Stelato. Arcfox: EV Mainstream dengan Sentuhan Teknologi Huawei Diluncurkan pada 2017, Arcfox menjadi wajah BAIC di segmen kendaraan listrik mainstream. Brand ini dihadirkan untuk menjawab kebutuhan pasar urban yang menginginkan mobil listrik modern seperti Arcfox T1 dan Arcfox T5. Arcfox menawarkan desain futuristis dengan pendekatan yang tetap rasional, yaitu fitur lengkap, fokus pada efisiensi, dan harga yang lebih kompetitif. Sub-brand BAIC, Arcfox Beberapa modelnya bahkan dikembangkan bersama Huawei melalui paket teknologi HI (Huawei Inside). Kolaborasi tersebut tidak hanya menyentuh ranah infotainment, tetapi juga sistem bantuan mengemudi canggih yang menempatkan Arcfox sebagai salah satu EV massal pertama yang mengintegrasikan sistem pintar Huawei secara penuh. Dalam peta besar BAIC, Arcfox adalah brand yang menegaskan bahwa perusahaan ini tidak hanya tangguh di medan berat, tetapi juga siap bermain di pasar mobilitas listrik arus utama. Stelato: Lini Premium Berteknologi Canggih Jika Arcfox adalah mainstream-nya kendaraan listrik BAIC, maka Stelato hadir sebagai sub-brand premium yang benar-benar berbeda. Diperkenalkan pada 2024, Stelato merupakan buah dari kolaborasi dengan Huawei melalui aliansi teknologi Harmony Intelligent Mobility Alliance (HIMA). Sub brand BAIC, Stelato Model perdananya, Stelato S9, dirancang untuk bersaing di liga sedan listrik mewah. Konsepnya elegan, menghadirkan desain liftback modern, kabin berarsitektur premium, fitur berkendara semi-otonom, serta pengalaman berkendara hening yang menjadi karakter EV kelas atas. Masuknya Stelato menandai ambisi BAIC untuk menantang pemain global seperti Tesla, Nio, hingga brand Eropa lainnya yang telah lama mendominasi segmen premium. Potensi Kehadiran di Indonesia Di sela-sela Guangzhou International Automobile Exhibition 2025, CEO BAIC Indonesia, Johnnathan Salim, menyebut bahwa peluang membawa seluruh sub-brand BAIC, termasuk Arcfox dan Stelato ke pasar domestik tetap terbuka, namun tidak bisa dilakukan buru-buru. “Kita ajak teman-teman ke sini untuk melihat langsung line-up BAIC dan betapa seriusnya merek ini ke Indonesia. Bisa dilihat, modelnya banyak, dari ICE sampai listrik, dan memang kita perlahan bawa ke Indonesia untuk versi setir kanannya,” ujar dia, Jumat (21/11/2025). CEO BAIC Indonesia, Johnnathan Salim Pernyataan tersebut menegaskan satu hal, kehadiran Arcfox dan Stelato di Indonesia sangat bergantung pada kesiapan varian setir kanan (RHD). Sebab, proses konversi dari setir kiri ke kanan bukan keputusan instan. Pabrikan harus melakukan studi teknis, menyesuaikan struktur sasis, tata letak kabin, posisi kabel dan modul, hingga kesiapan lini produksi. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.