Teknologi Advanced Driver Assistance System (ADAS) semakin menjadi bagian penting dalam pengembangan kendaraan modern. Tak lagi sekadar menawarkan kenyamanan, ADAS dirancang untuk membantu pengemudi mengenali potensi bahaya lebih dini sehingga risiko kecelakaan dapat dikurangi. Pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, Bosch Indonesia menjelaskan bagaimana sistem ADAS bekerja melalui tiga tahapan utama, yakni Sense, Think, dan Act. Ketiga proses tersebut saling terhubung untuk membantu kendaraan membaca kondisi sekitar, menganalisis risiko, lalu memberikan respons ketika diperlukan. Director of Mobility Solution Bosch Indonesia, Bernard Simanjuntak, mengatakan perkembangan teknologi keselamatan kini tidak hanya berfokus pada penambahan fitur di kendaraan. ADAS. "Perkembangan teknologi keselamatan bukan lagi sekadar tentang menambah fitur pada kendaraan. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi dapat memberikan dukungan yang tepat pada situasi yang tepat, terutama ketika kondisi berkendara dan interaksi antar pengguna jalan semakin kompleks," kata Bernard di GIIAS 2026, Kamis (6/8/2026). Tahap pertama adalah Sense, yaitu proses ketika kendaraan "melihat" kondisi di sekitarnya melalui berbagai sensor. Sistem ini mengandalkan Multi-Purpose Camera untuk mengenali marka jalan dan pengguna jalan lain, Radar Sensor untuk mengukur jarak serta kecepatan objek, dan Ultrasonic Sensor untuk mendeteksi benda dalam jarak dekat. Kombinasi ketiga sensor tersebut memungkinkan kendaraan memantau lingkungan sekitar secara terus-menerus, termasuk area yang sulit dijangkau pandangan pengemudi. Setelah data terkumpul, sistem memasuki tahap Think. Pada fase ini, seluruh informasi dari sensor diproses oleh sistem komputasi untuk menganalisis perubahan situasi di sekitar kendaraan. Dalam hitungan milidetik, perangkat lunak memperkirakan potensi risiko, kemudian menentukan apakah diperlukan respons tertentu berdasarkan kondisi yang terdeteksi. ADAS. Tahap terakhir adalah Act, yaitu ketika sistem membantu kendaraan merespons potensi bahaya. Salah satu teknologi yang digunakan adalah Integrated Power Brake, yang dapat menghasilkan respons pengereman secara cepat dan presisi ketika risiko tabrakan meningkat. Teknologi tersebut berfungsi sebagai bantuan tambahan bagi pengemudi, bukan mengambil alih kendali kendaraan secara penuh. Dengan begitu, pengemudi tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam mengoperasikan kendaraan. Melalui proses Sense, Think, dan Act, sistem ADAS tidak hanya dirancang untuk mengurangi dampak kecelakaan, tetapi juga membantu pengemudi mengantisipasi potensi bahaya sejak dini. Semakin cepat risiko dikenali, semakin besar peluang kecelakaan dapat dihindari.