Jika Rally Dakar dikenal sebagai reli lintas alam paling berat di dunia, maka untuk ajang off-road penakluk medan ekstrem ada satu nama legendaris, yakni Camel Trophy. Tingkat kesulitan Camel Trophy sangat tinggi hingga dijuluki “Olimpiade 4x4”. Ajang ini berlangsung selama dua dekade, dari 1980 hingga 2000, dengan rute di berbagai belahan dunia yang terkenal sulit dan terpencil. Dilansir dari MotorTrend, pada awalnya, Camel Trophy disponsori perusahaan rokok Camel dan dirancang sebagai ekspedisi petualangan lintas alam. Namun seiring waktu, kegiatan ini berkembang menjadi kompetisi internasional yang mempertemukan peserta dari berbagai negara. Awal Mula Camel Trophy pertama kali digelar pada 1980. Saat itu, para peserta menggunakan Jeep CJ-5 modifikasi untuk menembus hutan hujan Amazon melalui jalur Trans-Amazon. Ekspedisi tersebut menyita perhatian luas. Setahun kemudian, Land Rover masuk menjadi sponsor dan pemasok kendaraan utama. Sejak 1981 berbagai model Land Rover dan Range Rover digunakan sebagai armada resmi. Identitas kendaraan berkelir kuning khas pun melekat kuat sebagai simbol penaklukan medan ekstrem. Indonesia tercatat sebagai negara yang paling sering menjadi tuan rumah, yakni empat kali Sumatera (1981), Kalimantan/Borneo (1985), Sulawesi (1988), dan Kalimantan (1996). Camel Thropy Format dan Tantangan Camel Trophy bukan sekadar balapan adu cepat. Formatnya memadukan ekspedisi lintas alam dengan tantangan kompetitif yang disebut “Special Tasks”. Setiap tahun, tim dari berbagai negara harus melintasi hutan tropis, rawa, gurun, pegunungan bersalju, hingga padang tandus di Asia, Afrika, Amerika, dan Australia. Beragam tantangan dihadapi peserta, mulai dari winching atau menarik kendaraan dengan katrol, menyeberangi sungai, membangun jembatan darurat, hingga mengevakuasi kendaraan yang terjebak lumpur. Dalam sejumlah edisi, peserta juga menjalani tantangan non-kendaraan seperti orientasi medan, berenang, dan bersepeda gunung. Bahkan, ekspedisi ini kerap melibatkan ahli geologi dan ekologi untuk melakukan penelitian lapangan serta mengirim bantuan medis ke wilayah terpencil. Camel Trophy Masa Keemasan Pada pertengahan 1990-an, Camel Trophy mencapai puncak popularitas. Julukan “Olimpiade 4x4” kian kuat karena proses seleksi yang ketat dan jumlah pelamar yang mencapai lebih dari satu juta orang secara global. Menariknya, ajang ini hanya menerima peserta amatir. Para calon harus lolos seleksi nasional yang menguji kemampuan mengemudi 4x4, ketahanan fisik, navigasi, hingga pengetahuan mekanik dasar. Ditambah unit yang dipakai memiliki kuning khas, dan menjelajahi lokasi ekstrem seperti Sumatera, Zaire (kini Republik Demokratik Kongo), Madagaskar, Australia, Sulawesi, hingga Siberia. Camel Thropy Akhir Perjalanan Memasuki akhir 1990-an, fokus kompetisi mulai bergeser. Tantangan fisik menjadi lebih dominan dibandingkan eksplorasi berkendara. Edisi 1998 di Tierra del Fuego menghadirkan lebih banyak aktivitas non-off-road dan menggunakan Land Rover Freelander. Para penggemar garis keras menilai hal ini mengurangi karakter petualangan sejati Camel Trophy. Setelah penyelenggaraan tahun 2000, yang sudah tidak fokus pada kendaraan 4x4, Land Rover resmi menarik diri. Sebagai penerusnya, Land River menghadirkan ajang G4 Challenge yang berlangsung hingga 2008. Meski telah berakhir lebih dari dua dekade, Camel Trophy tetap dikenang sebagai salah satu ekspedisi off-road paling bergengsi dan ikonik dalam sejarah otomotif dunia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang