Mencampur bahan bakar dengan RON berbeda pada sepeda motor masih sering dilakukan pemilik dengan berbagai alasan. Padahal, jika dilakukan secara terus-menerus dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu kinerja mesin sepeda motor. Victor Assani, 2W Service Head PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) mengatakan, berbicara mengenai efek ke usia mesin, sebenarnya tergantung beberapa variabel yang lain seperti durasi waktu, gaya penggunaan, kualitas komponen, dan sebagainya. “Yang jelas, secara umum, kita harus paham bahwa ada beberapa faktor yang memengaruhi kualitas BBM, salah satunya penggunaan RON yang tidak sesuai,” ucap Victor kepada Kompas.com, Jumat (3/4/2026). Hal ini tentu berbeda dengan BBM yang sudah terkontaminasi atau tercampur zat lain, karena dampaknya bisa jauh lebih buruk, apalagi jika RON tidak sesuai sekaligus tercemar zat lain. “Anggap pada kondisi yang pertama itu menurunkan usia pakai sekitar 10-20 persen, maka kondisi kedua bisa 20-50 persen, bahkan kondisi ketiga bisa di atas 50 persen,” ucapnya. Ilustrasi isi bensin. Berikut daftar harga BBM Shell, BP AKR, dan Viwo per Februari 2025 serta daftar lokasi SPBU-nya. Sedangkan yang berkaitan dengan penggunaan BBM yang berbeda, misalnya RON 90 dicampur dengan RON 92, atau misalnya beda komponen aditif, ini dalam jangka pendek tidak signifikan berdampak pada mesin. “Namun dalam jangka panjang efeknya akan benar-benar terasa apalagi dengan frekuensi dan durasi tinggi,” ucap Victor. Victor yang juga merupakan Dosen Teknik Industri pada Fakultas Teknologi dan Bisnis Energi Institut Teknologi PLN menjelaskan, perpaduan RON tinggi dan rendah bisa jadi akan membuat RON rendah menjadi naik, namun harus diingat bahwa mesin saat ini (FI) itu dirancang untuk input yang stabil. “Sehingga dapat mengakibatkan control yang tidak maksimal. Kalau ini sering maka bisa mengakibatkan pembakaran tidak konsisten yang memicu knocking rendah namun repetitive dan muaranya pada pembentukan kerak karbon,” kata Victor. Yang lain adalah aditif yang berbeda terlebih kalau berbeda merek. Hal ini karena masing-masing merek mengklaim punya keunggulan masing-masing sehingga pasti kandungan aditifnya akan berbeda. “Kalau misalnya kebetulan sama, ini bisa jadi saling menguatkan atau minimal saling menutupi. Bagaimana kalau ternyata berbeda dan bahkan saling menegasikan? Ini bisa memicu penumpukan sisa pembakaran di ruang bakar,” kata Victor. Ia juga mengatakan, memang benar, bahan bakar dengan RON lebih tinggi umumnya lebih mahal dan sering dianggap memiliki kualitas lebih baik. “Namun, pemilihan BBM tidak boleh hanya berdasarkan anggapan tersebut, karena yang paling penting adalah menyesuaikannya dengan rasio kompresi mesin kendaraan agar kinerjanya tetap optimal dan aman,” ucapnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang