Pemerintah Indonesia akan mendorong implementasi program mandatori biodiesel B50 pada 2026. Artinya, solar nantinya akan memakai campuran 50 persen bahan bakar nabati. Kebijakan ini dilakukan sebagai langkah substitusi untuk mengurangi kebutuhan solar impor. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menguji coba bahan bakar Biodiesel B50 disela acara peresmian Pabrik Biodiesel B50 di Tanah Bumbu, Kalsel, Minggu (18/8/2024). Menanggapi kebijakan tersebut, Toni Abdul Ghani, Korda Jabar-Banten Canter Mania Indonesia Community (CMIC), mengatakan tidak khawatir dengan adanya wacana tersebut. Toni menyatakan bahwa pada dasarnya pemilik truk pasti akan mengikuti kebijakan pemerintah dan menggunakan solar yang ada. Kalaupun nantinya ada masalah, mereka akan meminta solusi kepada produsen. Ilustrasi biodiesel. Biodiesel B50 siap menjadi bagian dari transisi energi hijau Indonesia sambil menyeimbangkan kebutuhan domestik dan ekspor. "Kalau saya begini aja. Kalaupun tidak cocok dengan spesifikasi kendaraan, paling minta tolong sama produsen. Supaya ada solusi. Paling saya begitu aja," katanya di Purwokerto, Jawa Tengah, Sabtu (22/11/2025). "Karena kami mewakili pengguna sebagai komunitas yang dekat. Selayaknya, ya minta solusi. Misalkan apakah ada rencana dibuka sistem pembakaran atau lain-lain. Paling begitu," ujarnya. Toni menjelaskan, wacana B50 sebetulnya tidak terlalu menjadi masalah karena selama ini penggunaan B40 juga tidak menimbulkan kendala berarti, hanya memerlukan penyesuaian. "Nggak ada. Nggak ada. Asal rajin ganti saringan solar. Pokoknya kalau tarikannya sudah agak berat, mesti ganti," ujarnya. Jambore Nasional XII Canter Mania Indonesia Community (JAMNAS XII CMIC), resmi digelar pada 22?23 November 2025 di GOR Satria, Kota Purwokerto. Puji Petrik, salah satu tokoh komunitas Canter Mania Indonesia Community (CMIC) wilayah Purwokerto dan Banyumas, menambahkan bahwa jarak ganti saringan solar bisa dua bulan sekali. "Dua bulan, dua bulan. Kualitas solar sangat jelek sekali untuk saat sekarang ya. Apalagi di daerah Pantai Utara (Pantura)," kata Puji. "Malah sering itu, yang kena itu, nozel. Pompa solar," ujarnya. Adapun beberapa masalah yang umum muncul pada penggunaan biodiesel atau solar campuran nabati antara lain saringan solar cepat kotor, pembentukan endapan (sludge), kandungan air lebih tinggi, serta injektor cepat rusak. Masalah lainnya yaitu lebih sensitif pada mesin Euro 4, konsumsi lebih boros, dan bau serta oksidasi lebih cepat karena solar dengan FAME lebih cepat berubah kualitas jika disimpan lama. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.