Langkah pemerintah untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan melalui mandatori biodiesel terus bergulir. Setelah sukses dengan B35, kini giliran bahan bakar B50 atau campuran 50 persen biodiesel dari minyak sawit yang sedang masuk dalam tahap pengujian intensif. Rencananya, pemerintah menargetkan implementasi penuh B50 pada 1 Juli 2026. Namun, sebelum resmi diedarkan di SPBU, sejumlah pabrikan otomotif, khususnya di sektor kendaraan niaga, terlibat aktif dalam memantau hasil uji jalan (road test) guna memastikan kesiapan mesin terhadap spesifikasi bahan bakar baru tersebut. Kunjungan ke pabrik Mitsubishi Fuso ungkap proses perakitan truk presisi dengan sistem modern dan tenaga kerja lokal terampil. PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), distributor resmi kendaraan niaga Mitsubishi Fuso di Indonesia, menjadi salah satu pihak yang menaruh perhatian besar pada progres ini. Aji Jaya, Sales & Marketing Director PT KTB, memaparkan bahwa saat ini proses road test masih berlangsung untuk melihat sejauh mana performa mesin dalam jangka panjang. "Nah, yang saya dapat update-nya, road test itu sudah berjalan sampai dengan 40.000 km. Targetnya 50.000 km," ujar Aji di Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo (Giicomvec) 2026 di Jakarta, belum lama ini. Booth Mitsubishi Fuso di Giicomvec 2026 Aji menjelaskan bahwa pencapaian angka 40.000 km merupakan tonggak penting bagi tim penguji. Pasalnya, pada tahap ini, para pemangku kepentingan mulai meninjau data awal sebelum melanjutkan pengujian ke fase final guna melihat daya tahan komponen mesin secara menyeluruh. Booth Mitsubishi Fuso di GIIAS 2025 "Di angka 40.000 km ini akan diadakan evaluasi dulu, apa dampaknya? Apa hasilnya? Kami masih menunggu hasil akhir evaluasi dari hasil road test tersebut," kata Aji. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa data yang akurat sangat dibutuhkan sebelum kebijakan ini benar-benar diterapkan secara masif. Angka 50.000 km dianggap sebagai standar yang cukup untuk merepresentasikan beban kerja kendaraan niaga yang biasanya menempuh jarak jauh setiap harinya. "Karena, penting bagi kami mengetahui hasilnya setelah B50 itu digunakan sampai dengan 50.000 km. Jadi, targetnya Juni atau Juli mungkin baru bisa mencapai angka 50.000 km," ujarnya. Aji menambahkan, setelah target jarak tempuh tersebut tercapai, proses pengecekan tidak hanya dilakukan melalui pemantauan sensor atau performa di jalanan saja. Nantinya akan ada proses teknis yang lebih mendalam untuk melihat kondisi fisik di dalam ruang bakar. Hasil evaluasi tersebut yang kemudian akan dijadikan acuan atau pedoman bagi manufaktur dalam memberikan rekomendasi perawatan kepada konsumen. Hal ini krusial untuk menjaga agar masa pakai mesin tetap optimal meskipun menggunakan campuran biodiesel yang lebih tinggi. "Sampai saat ini, dari hasil road test sampai 40.000 km, tidak ada isu. Tapi lebih aktualnya lagi, lebih pastinya kita harus tunggu evaluasi. Nanti setelah dibongkar mesinnya, dilihat apa hasilnya, itu yang bisa kita buat konklusinya," kata Aji. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang