Pengembangan motor di ajang MotoGP menjadi tantangan yang cukup rumit bagi setiap pabrikan. Pasalnya, setiap peningkatan di satu area kerap diiringi penurunan performa di sektor lain. Tak jarang para pabrikan harus memastikan bahwa keuntungan yang diperoleh lebih besar dibandingkan kerugian yang muncul. Itu pun harus berlaku di semua sirkuit, bukan hanya di lintasan tertentu. Kompleksitas pengembangan semakin tinggi karena perubahan yang terasa lebih nyaman bagi pebalap belum tentu berdampak positif terhadap performa maksimal motor. Kondisi inilah yang turut disoroti Marc Marquez saat menanggapi upaya Francesco Bagnaia dan Fabio di Giannantonio untuk meningkatkan feeling bagian depan Ducati Desmosedici jelang musim 2026. Menurut Marquez, peningkatan rasa pada roda depan memang krusial bagi pebalap, mengingat ban depan menjadi elemen paling sensitif dalam mengendalikan motor di lintasan. Namun, peningkatan tersebut biasanya harus dibayar dengan pengorbanan di sektor lain. “Biasanya ketika bagian depan diperbaiki, grip belakang justru berkurang. Di situlah pentingnya mencari kompromi yang tepat,” ujar Marquez, dikutip dari Crash, Rabu (6/1/2026). Marc Marquez dan Francesco Bagnaia berkolaborasi Marquez menilai Ducati sejatinya sudah memiliki fondasi yang sangat kuat. Oleh karena itu, pengembangan yang dilakukan ke depan lebih difokuskan pada perubahan-perubahan kecil, seperti yang pernah diterapkan pada musim dingin sebelumnya. Ia menegaskan bahwa Ducati tidak bisa berharap menemukan lompatan performa besar hanya dari satu aspek pengembangan. Risiko salah arah justru bisa muncul apabila terlalu memaksakan perubahan drastis. Kehati-hatian Ducati dalam menentukan arah pengembangan tercermin dari keputusan kembali menggunakan spesifikasi mesin yang mendekati GP24, setelah sebelumnya merencanakan penggunaan mesin GP25 dalam tes pramusim. Sepanjang musim 2025, Bagnaia dan Di Giannantonio masih kesulitan menemukan performa yang konsisten dengan motor terbaru. Sebaliknya, Marquez justru tampil dominan pada musim debutnya bersama tim pabrikan Ducati. Pebalap asal Spanyol tersebut memastikan keunggulan dalam perburuan gelar lewat rentetan 14 kemenangan beruntun, baik pada balapan Sprint maupun Grand Prix, dari seri Aragon hingga Hungaria. Helm spesial Shoei edisi Marc Marquez juara dunia MotoGP 2025 dijual dengan jumlah yang sangat terbatas, 93 unit di dunia Marquez menyebut tes pascabalapan di Aragon sebagai titik balik terpenting dari sisi teknis. Sejak momen tersebut, ia merasakan peningkatan signifikan, terutama pada setelan motor dan pengembangan aerodinamika. Penyesuaian yang dilakukan Ducati membuat Marquez menggunakan geometri dan dimensi motor yang sama dengan pebalap Ducati lainnya. Hasilnya, karakter motor menjadi lebih mudah dikendalikan dibandingkan pada paruh pertama musim, ketika ia masih mengendarai motor dengan karakter lebih agresif. Meski sempat mengalami cedera sepekan setelah meraih gelar juara grand prix kesembilan di Motegi, Marquez dijadwalkan kembali turun lintasan pada tes pramusim MotoGP di Sepang, awal Februari mendatang. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang