Langkah PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) untuk mempercepat tren elektrifikasi kendaraan komersial di Indonesia semakin nyata. Emiten pelopor bus dan truk listrik ini baru saja mengantongi lampu hijau dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan aksi korporasi berupa rights issue. Melalui skema Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I, VKTR membidik kucuran dana segar hingga Rp 3 triliun. Caranya, mereka siap melepas 15 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 200 per lembar. Lalu, buat apa dana jumbo tersebut? Fokus utamanya ternyata sangat lekat dengan dunia otomotif, yakni memperkuat rantai pasok dan ekosistem Electric Vehicle (EV) komersial di Tanah Air. Direktur Utama VKTR, A. Ardiansyah Bakrie, menjelaskan bahwa langkah ini penting untuk mengimbangi tingginya tren elektrifikasi, khususnya di sektor angkutan niaga dan transportasi publik. Direktur Utama & CEO PT Bakrie & Brothers Tbk, Anindya Novyan Bakrie, saat peresmian pabrik perakitan kendaraan listrik komersial milik VKTR "Penguatan permodalan ini kami arahkan tidak hanya untuk mendukung kebutuhan modal kerja, tetapi juga memperbesar kapasitas VKTR dalam menyediakan kendaraan, sekaligus solusi yang mempercepat adopsi EV oleh operator dan pelaku usaha," ujar Ardi dalam keterangan resminya, Senin (5/10/2026). Solusi Bebas Pusing buat Pengusaha Transportasi Nantinya, mayoritas dana rights issue sekitar 66,86 persen—akan disuntikkan sebagai modal ke PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI). Dana ini nantinya dipakai untuk memborong unit armada listrik dari VKTR pada periode 2026-2027. Sementara sisanya, akan digunakan untuk belanja modal kerja dan perakitan persediaan seperti bus listrik, truk listrik, transporter, hingga forklift listrik. Langkah ini sejalan dengan rencana VKTR menghadirkan layanan Electric Mobility-as-a-Service (e-MaaS) lewat SEI. MaaS ini ibarat jalan pintas bagi para pengusaha bus atau logistik yang ingin beralih ke kendaraan listrik tapi terbentur modal awal (CAPEX) pembelian unit yang selangit. Lewat e-MaaS, operator transportasi bisa langsung memakai bus atau truk listrik lengkap dengan fasilitas charging tanpa investasi awal yang besar, karena biayanya dihitung sebagai biaya operasional (OPEX). "Agar semakin banyak pelaku usaha beralih ke EV, butuh dukungan pembiayaan, fasilitas charging, dan layanan operasional yang mudah. Melalui e-MaaS, kami hadirkan solusi yang lebih terjangkau, sehingga EV makin mudah diterapkan untuk bisnis," tambah Ardi.