Penggunaan bahan bakar nabati atau biofuel di Indonesia terus dikembangkan, baik untuk kendaraan bermesin diesel maupun bensin. Saat ini Indonesia telah menerapkan biodiesel B50, yakni bahan bakar solar yang mengandung campuran 50 persen bahan bakar nabati berbasis minyak sawit dan 50 persen bahan bakar diesel fosil. Selain biodiesel, pemerintah juga menyiapkan penerapan bioetanol E20 untuk kendaraan bensin. Sesuai namanya, E20 merupakan bahan bakar dengan kandungan bioetanol sebesar 20 persen yang dicampurkan dengan bensin. Meski memiliki karakteristik berbeda, baik biodiesel maupun bioetanol memiliki sifat yang perlu diperhatikan dalam proses penyimpanan dan penyalurannya, salah satunya berkaitan dengan kandungan air. Ilustrasi biodiesel B50. Senior Vice President Business Development PT Pertamina, Ary Kurniawan mengatakan, produk berbasis biofuel memiliki sifat lebih higroskopis. “Karena memang kalau kita lihat yang namanya bio ini kan dia lebih higroskopis," kata ujar Ary dalam Panel Diskusi 'Strategi Implementasi Biofuel untuk Ketahanan Indonesia' di EBTKE ConEx 2026, Kamis (3/9/2026). Higroskopis merupakan sifat suatu bahan yang mudah menyerap atau menarik uap air dari udara di sekitarnya. Dalam konteks bahan bakar, keberadaan air perlu dikendalikan karena dapat memengaruhi kualitas dan karakteristik bahan bakar selama penyimpanan maupun distribusi. SPBU Menurut Ary, penerapan bahan bakar baru tidak hanya berkaitan dengan produk yang digunakan kendaraan. Pemerintah menargetkan penghentian impor solar pada 2026 melalui penguatan produksi kilang dan percepatan biodiesel B50. Infrastruktur penyaluran hingga petugas di lapangan juga perlu dipersiapkan. “Jadi otomatis penanganan di SPBU itu kita perlu melakukan lebih baik, supaya tidak terlalu sering terjadi kontak dengan udara," katanya. “Itu salah satu poin supaya kita bisa menjaga kualitas dari produk dari Pertamina,” ujarnya. Hal tersebut penting karena bahan bakar harus tetap terjaga kualitasnya sejak berada di fasilitas penyimpanan hingga akhirnya disalurkan kepada konsumen melalui dispenser di SPBU. “Lebih spesifik, kemudian juga nanti ke masyarakatnya, itu juga kita perlu memberikan pelatihan kepada teman-teman yang akan melakukan kegiatan ini, supaya bisa menjaga kualitas dari biodiesel itu sendiri,” ujarnya. Dengan karakteristik biofuel yang lebih mudah berinteraksi dengan kelembapan udara, pengelolaan di sepanjang rantai distribusi menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas produk. Foto Ilustrasi “Tentu saja ini tidak bisa kita lakukan sendiri. Jadi, kita juga bekerja sama untuk bisa melakukan training secara komprehensif kepada pemilik SPBU dan juga para pelaksana di lapangan di SPBU," katanya. Higroskopis Secara sederhana, bahan yang bersifat higroskopis cenderung menyerap kelembapan dari lingkungan. Karena itu, semakin banyak kontak dengan udara lembap, semakin besar pula perhatian yang diperlukan dalam penyimpanan dan penanganannya. Untuk bahan bakar, pengelolaan kandungan air menjadi penting karena air yang masuk ke dalam sistem penyimpanan atau distribusi dapat memengaruhi kualitas bahan bakar. Bahan bakar yang mengandung air berpotensi menimbulkan masalah pada sistem bahan bakar kendaraan. Karena itu sistem penyimpanan, distribusi, fasilitas pengisian, hingga sumber daya manusia juga harus dipersiapkan agar kualitas bahan bakar tetap terjaga sampai ke konsumen.