Pemerintah tengah menyiapkan penerapan bahan bakar nabati berbasis bioetanol dengan campuran 20 persen atau E20. Program ini menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus memanfaatkan sumber energi yang tersedia di dalam negeri. Namun, penerapan E20 tidak hanya membutuhkan kesiapan industri dan kendaraan. Riset mengenai bahan baku juga penting untuk memastikan produksi biofuel efisien dan berkelanjutan. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Stella Christie mengatakan, Indonesia memiliki beragam sumber bahan baku yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biofuel. “Di dalam biofuel, penting sekali pada saat ini juga kita melakukan riset. Tadi yang disebutkan adalah riset untuk perbandingan," kata Stella di acara IndoEBTKE ConEx 2026, Jakarta, Kamis (3/9/2026). Ilustrasi bioetanol. "Perbandingan feedstock yang mana, carbon source yang mana, yang paling efisien untuk biofuel kita. Kenapa? Ini menjadi menarik," ujarnya. "Artinya, Indonesia itu punya hampir segalanya. Apakah itu jagung, apakah itu tebu, apakah itu singkong, atau juga limbahnya," katanya. Tiga sumber Stella menjelaskan, bahan baku biofuel secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan generasinya. Generasi pertama berasal dari tanaman yang juga dapat digunakan sebagai sumber pangan, seperti jagung, tebu, dan singkong. Sementara itu, generasi kedua memanfaatkan bagian atau sisa tanaman yang tidak digunakan sebagai bahan pangan, seperti ampas dan limbah pertanian. Adapun generasi ketiga berasal dari sumber lain, termasuk bio oil atau lemak hayati. Petani memanen tebu saat panen raya di Jatikalen, Nganjuk, Jawa Timur, Senin (20/7/2026). Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan siap mempercepat program peremajaan tebu nasional melalui modernisasi budi daya, peningkatan produktivitas, penggunaan benih unggul, mekanisasi pertanian, serta penguatan kemitraan dengan petani dan industri gula guna mewujudkan swasembada gula dalam dua tahun sesuai target Presiden Prabowo Subianto. Menurut Stella, keberagaman sumber bahan baku tersebut membuat Indonesia perlu melakukan riset. Tujuannya bukan hanya mencari bahan baku yang paling mudah diperoleh, tetapi juga menghitung efisiensi energi dan dampaknya terhadap kebutuhan pangan serta lingkungan. Jangan sampai ganggu pangan Penggunaan tanaman pangan sebagai bahan baku biofuel perlu diperhitungkan secara cermat. Sebab jika kebutuhan industri biofuel terlalu besar, pasokan bahan pangan berpotensi berkurang dan pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga. Ilustrasi BBM. Ilustrasi SPBU. Harga Pertamax Green 95 naik. “Nah, dari tiga tersebut, betul sekali tadi yang disampaikan adalah kita harus membuat riset yang jeli untuk perbandingannya," katanya. "Karena jangan sampai untuk mencapai biofuel, kita tanam tebu dan menggunakan tebu dan singkong dan jagung sebanyak-banyaknya untuk biofuel, sementara untuk makanan ini jadi berkurang," ujarnya. "Juga jangan sampai kita membuka lahan baru, karena setiap kali kita membuka lahan baru, itu adalah potensi terhadap climate, itu akan memburuk," katanya. Sebab untuk menanam jagung, singkong, atau tebu yang diperlukan, membutuhkan energi tersendiri. Peluncuran Program Persiapan Teknis E20 E20 Secara teknis, E20 adalah bensin yang mengandung 20 persen etanol berdasarkan volume dan 80 persen bensin. Huruf “E” berarti ethanol, sedangkan angka 20 menunjukkan kadar etanolnya. Etanol yang digunakan umumnya merupakan bioetanol, yakni etanol yang dibuat dari bahan baku hayati seperti tebu, jagung, singkong, atau bahan berlignoselulosa. Etanol memiliki karakteristik berbeda dari bensin. Salah satu yang paling penting adalah angka oktannya tinggi, sehingga dapat membantu meningkatkan ketahanan bahan bakar.