Sejak meluncur pada 2013, mobil-mobil Low Cost Green Car (LCGC) dirancang sebagai kendaraan terjangkau yang irit bahan bakar. Namun, agar mobil yang sudah efisien ini semakin ramah lingkungan, ada langkah sederhana yang bisa dilakukan tanpa mengubah sisi teknis, yaitu dengan memakai bahan bakar yang lebih baik. Hal itu disampaikan oleh Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, yang menilai pemakaian biofuel merupakan salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah LCGC dari sisi dampak lingkungan. "Makanya sebenarnya kalau kami ya, ini kalau dari posisi kami, kalau mau berperan untuk carbon neutral, untuk yang LCGC, kami dari sisi yang berbeda, itu lebih baik biofuel," katanya di ICE BSD City, Tangerang, pekan lalu. Toyota Agya di GJAW 2024 Seperti diketahui, LCGC adalah segmen entry level, di mana setiap perubahan teknis akan berpengaruh pada harga jual. Sedangkan konsep dasar LCGC adalah kendaraan hemat biaya, mudah dijangkau, dan tetap rendah emisi. Karena itu, opsi penggunaan bahan bakar yang lebih bersih seperti biofuel dinilai lebih realistis ketimbang mengutak-atik sistem penggerak, seperti misalkan mengadopsi teknologi hybrid. Cek mesin Agya bekas "Karena nggak mengubah apa-apa. Harganya tetap. Tinggal bahan bakarnya yang diubah. Tapi dia bisa mengurangi emisi, mengurangi karbon," kata Nandi. "Jadi konsumen tidak membayar apa-apa. Sebenarnya energi bersih ini kan lebih baik," ujarnya. Untuk diketahui, LCGC sendiri memiliki sejumlah syarat khusus. Di antaranya, kapasitas mesin bensin dibatasi 980 cc – 1.200 cc atau diesel hingga 1.500 cc, kemudian konsumsi bahan bakar minimal 20 Km per liter. Mobil LCGC juga mesti memenuhi tingkat emisi karbon maksimal 120 g/Km untuk mesin bensin hingga 1.200 cc dan diesel 1.500 cc. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih. Berikan apresiasi sekarang