Hyundai Motors Indonesia (HMID) ikut bersaing di segmen mobil hybrid, tapi dengan sistem full/strong hybrid. Pabrikan asal Korea Selatan ini enggan memasarkan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), seperti yang banyak pabrikan China lakukan. Strategi yang dilakukan oleh Hyundai terkait elektrifikasi adalah memasarkan mobil hybrid dan mobil listrik. Hyundai memiliki alasan tersendiri mengapa tidak mengembangkan PHEV. Presiden Direktur HMID Ju Hun Lee, mengatakan, Hyundai tidak memikirkan soal PHEV. Sebab, PHEV dinilai tidak benar-benar ramah lingkungan. Ioniq 5 N limited edition "Kendaraan listrik harus menggunakan listrik, bukan bensin. Hybrid menggunakan bensin, tapi bensin yang lebih sedikit dibandingkan dengan ICE," ujar Lee, kepada wartawan, saat ditemui di Tangerang, belum lama ini. "Tapi PHEV, Anda bisa menggunakan listrik atau bensin. Tapi, jika Anda membeli PHEV, Anda hanya menggunakan bensin, itu tidak ramah lingkungan," kata Lee. Menurut Lee, PHEV adalah model yang cukup rumit. Hyundai tidak menganggap PHEV sebagai teknologi yang ramah lingkungan. All-new PALISADE tampil sebagai ?The Group Adventurer? yang menyajikan kemewahan dan teknologi dalam satu paket. "Jadi, kami hanya fokus pada mobil hybrid atau mobil listrik atau mobil bensin," ujarnya. Lee mengatakan, teknologi yang paling ramah lingkungan saat ini adalah bahan bakar hidrogen. Sebab, mobil berbahan bakar bisa digunakan sekaligus untuk membersihkan udara. "Tapi, teknologi ini belum sempurna sekarang. Bagaimana pun juga, kami berinvestasi pada hidrogen. Sebab, dari air, menjadi hidrogen, menjadi air lagi, itulah teknologi yang paling ramah lingkungan," ujar Lee. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang