Upaya mendorong perubahan sosial yang dipicu oleh isu transisi energi dan dekarbonisasi terus bermunculan dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah dorongan menuju energi bersih, sejumlah anak muda mencoba mencari cara agar idealisme mereka tidak berhenti setelah ruang diskusi tutup atau momentum demonstrasi berlalu. Semangat itu kemudian berkembang menjadi dorongan untuk menciptakan langkah yang lebih konkret, terukur, dan berdampak nyata bagi masyarakat. Keresahan soal energi sebenarnya tidak muncul tiba-tiba. Dalam dua dekade terakhir, isu ini kerap menjadi pemicu gerakan mahasiswa—termasuk demonstrasi besar terkait kenaikan harga BBM pada 2004 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Gelombang aksi itu meninggalkan jejak sentimen kuat tentang kedaulatan energi, yang turut membentuk cara generasi aktivis memandang urgensi perubahan di sektor tersebut. Ikhlas Thamrin, selaku penggagas Bobibos, menuturkan bahwa semangat serupa kembali muncul setelah masa-masa aksi mahasiswa yang mereka alami berakhir. Ia dan sejumlah aktivis BEM merasa idealisme tidak boleh berhenti di poster dan orasi. “Kami ingin idealisme itu tetap hidup setelah aksi selesai. Kalau hanya berhenti di poster dan orasi, perubahan tidak akan bergerak,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (18/11/2025). Ikhlas bercerita bahwa obrolan awal mereka terjadi di sebuah angkringan di Solo, Jawa Tengah. Dari percakapan sederhana itu, muncul keinginan untuk melahirkan karya nyata yang tidak hanya menjadi simbol perlawanan, tetapi juga menawarkan solusi. BBM Bobibos Dari rangkaian diskusi tersebut, lahirlah gagasan mengembangkan Bobibos, yakni bahan bakar nabati (biofuel) berbasis limbah pertanian yang mereka teliti dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Produk ini dikembangkan dari jerami sebagai upaya kecil menjawab isu kedaulatan energi. Meski hasilnya masih terus mereka sempurnakan, Bobibos menjadi contoh bagaimana gagasan aktivisme dapat bertemu dengan inovasi teknis. Masih Dipertanyakan Dari sisi lembaga riset, apresiasi datang dari BRIN. Hari Setyapraja, peneliti BRIN, menyebut inovasi seperti Bobibos penting untuk mendorong terobosan energi alternatif. Namun, ia menegaskan bahwa setiap inovasi tetap membutuhkan dukungan ilmiah agar prosesnya dapat diverifikasi dan distandardisasi. "Saya belum bisa berkomentar soal Bobibos karena belum menguji langsung. Klaim ilmiah harus dibuktikan di lab dan divalidasi agar hasilnya stabil," ujarnya dikutip dari Kompas.com. Terkait klaim RON 98, Hari menilai hal itu memungkinkan apabila produk akhirnya berupa bioetanol, mengingat nilai oktannya memang tinggi. Meski demikian, ia menekankan bahwa klaim ilmiah tetap harus diuji di laboratorium dan direplikasi agar valid. Petugas SPBU melayani pengisian BBM. (Dok, Pertamina) BRIN sendiri belum melakukan pengujian langsung terhadap Bobibos sehingga belum dapat memberikan penilaian lebih jauh. Ikhlas mengatakan visi besar kelompoknya terangkum dalam satu kalimat: Indonesia yang sehat, berdaulat air, pangan, dan energi. “Kalau ada teknologi yang bisa dilakukan dari desa, dengan alat sederhana, mengapa tidak dicoba?” kata Ikhlas. Kini, fokus Bobibos tidak berhenti pada kualitas bahan bakar semata. Mereka ingin menunjukkan bahwa inisiatif energi alternatif dapat tumbuh dari ruang-ruang kecil, diuji secara ilmiah, dan menjadi bagian dari upaya menemukan bentuk baru perubahan sosial yang lebih kontekstual dan membumi. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.