— Kehadiran bahan bakar nabati seperti Bobibos menjadi angin segar di tengah upaya mencari energi yang lebih ramah lingkungan. Produk yang dikembangkan lebih dari satu dekade ini diklaim tidak hanya menawarkan energi baru terbarukan (EBT), tetapi juga harga yang lebih ekonomis sehingga dapat diakses lebih banyak pengguna. Hendro Sutono, seorang pegiat dan juru bicara dari Komunitas Sepeda dan Motor Listrik (KOSMIK), melihat berkembangnya bahan bakar terbarukan sebagai bagian dari dinamika teknologi energi yang terus bergerak. Namun menurutnya, penting untuk memahami bahwa setiap teknologi memiliki tantangan dan konteks penggunaan masing-masing. “Perlombaan mencari sumber energi terbarukan sering kali membuat berbagai teknologi baru bermunculan, termasuk bio-oil seperti BOBIBOS," ujar Hendro kepada Kompas.com, Senin (17/11/2025). "Konsep mengolah limbah pertanian menjadi bahan bakar cair memang menarik, tetapi prosesnya kompleks, yaitu perlu fermentasi atau reaksi biologis terkontrol, membutuhkan enzim atau kultur mikroba, memerlukan standar mutu yang ketat, serta bergantung pada peralatan khusus yang tidak murah," katanya. "Bahkan setelah bio-oil dihasilkan, bahan tersebut masih harus dibakar dalam mesin kendaraan yang sarat gesekan dan kehilangan energi. Pada mesin pembakaran dalam, hanya 30 persen energi menjadi gerak, 70 persen menjadi panas yang dibuang begitu saja ke udara," ujarnya. Hendro berpendapat perkembangan bahan bakar nabati seperti Bobibos tetap menjadi bagian dari upaya memperluas alternatif energi yang lebih ramah lingkungan. Mulyadi nilai inovasi energi alternatif seperti Bobibos bisa bantu kurangi impor BBM dan dorong kemandirian energi nasional. Namun jika tujuannya ialah energi bersih dan terbarukan, maka listrik menjadi kata kunci. Apalagi saat ini perkembangan mobil dan motor listrik yang tambah massif. "Di sisi lain, jalur listrik bekerja jauh lebih sederhana. Limbah pertanian dapat langsung digunakan sebagai bahan bakar pembangkit (PLTU) biomassa tanpa proses kimia berlapis," kata Hendro. "Listrik yang dihasilkan tinggal dialirkan ke pengguna, dan motor listrik mengubah energi tersebut menjadi gerak dengan efisiensi sangat tinggi, tanpa tahapan pembakaran, tanpa emisi, dan tanpa kebutuhan rantai pasok/distribusi bahan bakar cair yang rumit," ujarnya. Hendro mengatakan, bio-oil tetap memiliki tempat untuk kondisi tertentu, tetapi untuk transportasi massal, pendekatannya memerlukan terlalu banyak tahap, terlalu banyak variabel, dan terlalu banyak titik rawan. Bobibos berbasis jerami diuji di Bogor, hasilnya mengejutkan: performa responsif, emisi nyaris nol, dan RON tembus 98,1. Sementara itu, listrik menawarkan jalur yang lebih langsung, produksi energi yang lebih mudah distandarisasi, distribusi yang lebih efisien, dan konversi menjadi tenaga gerak yang jauh lebih sederhana. "Pada akhirnya, jika tujuan utama adalah solusi yang praktis, hemat energi, mudah diperluas, dan minim risiko teknis, kendaraan listrik tetap menjadi pilihan paling masuk akal," ujarnya. "Bio-oil bisa menjadi pelengkap di konteks tertentu, tetapi untuk mobilitas harian, kesederhanaan listrik adalah keunggulan yang sulit disaingi,” ujar Hendro. Hendro menilai setiap inovasi menghadirkan peluang sekaligus tantangan, dan keberadaannya dapat melengkapi berbagai kebutuhan energi di lapangan. Penemu Bobibos, Muhammad Ikhlas Thamrin yang merupakan alumnus UNS angkatan 2001. Pendekatan teknologi yang beragam memungkinkan masyarakat memiliki pilihan yang sesuai dengan kondisi, kemampuan, dan kesiapan masing-masing. Seperti diketahui, Bobibos, singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos, hadir dalam dua varian, yakni bensin dan solar nabati. Produsen menyebut bahan bakar ini memiliki angka oktan mendekati RON 98. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah bahan baku utamanya yang berasal dari limbah pertanian. Jerami padi diolah menjadi bahan bakar cair yang diklaim lebih ramah lingkungan, sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah pertanian yang sebelumnya kurang bernilai. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.