Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menyiapkan sejumlah skema rekayasa lalu-lintas untuk mengurai kepadatan kendaraan saat mudik Lebaran Idul Fitri 2026. Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho mengatakan, setiap kebijakan rekayasa lalu lintas disesuaikan dengan kondisi di lapangan, terutama berdasarkan volume kendaraan dan bangkitan arus di masing-masing wilayah. “Tentunya, manajemen rekayasa lalu lintas di setiap lokasi berbeda, tergantung pada bangkitan arus dan jumlah volume kendaraan," ujar Agus di acara Mudik Outlook 2026, di Jakarta, Selasa (27/1/2026). One Way Tol Cipali KM 188 "Dari dasar perhitungan tersebut, baru ditentukan langkah-langkah penanganan darurat, termasuk eksekusi rekayasa lalu lintas seperti contraflow dan sistem satu arah atau one way,” katanya. Agus menjelaskan, pengalaman mudik tahun sebelumnya menjadi salah satu bahan evaluasi penting dalam menyusun skema pengamanan tahun ini. Rekayasa lalu lintas bersifat situasional dan diterapkan secara bertahap sesuai kebutuhan. Contraflow berlaku dari Km 47-Km 70 Tol Japek, 1 april 2025 "Tahun lalu, kami memang melakukan penanganan darurat dengan menerapkan one way sepenggal di sejumlah lokasi, sebelum diberlakukan one way nasional. One way sepenggal tahap pertama kemudian dilanjutkan secara bertahap hingga mencapai kilometer 414 Kalikangkung (Semarang),” ujarnya. Menurut Agus, setiap keputusan penerapan contraflow maupun one way harus memenuhi parameter tertentu dan tidak dilakukan secara mendadak. "Kebijakan ini akan terus kami evaluasi, karena dalam mengeksekusi contraflow maupun one way terdapat sejumlah parameter yang harus dipenuhi. Seluruh perhitungan tersebut kami koordinasikan dengan Jasa Marga," ujarnya. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, Korlantas kemudian menentukan pola rekayasa yang paling efektif, termasuk jumlah lajur yang digunakan dan titik pembukaan jalur. One way lokal di Tol Semarang-Solo Mudik Lebaran 2025 "Dari situ kemudian diputuskan apakah akan diterapkan contraflow satu lajur atau dua lajur, serta pembukaan jalur dari Km 70 hingga Km 188 untuk melancarkan arus menuju Trans Jawa," katanya. Agus menambahkan, skema pengaturan lalu lintas tidak hanya difokuskan pada jalur utama mudik di Pulau Jawa, tetapi juga mencakup pergerakan kendaraan menuju daerah lain. "Termasuk juga untuk arus ke luar Pulau Jawa, seperti ke Bandung dan ke Sumatera. Seluruh skenario tersebut sudah kami siapkan berdasarkan parameter volume lalu lintas, baik di jalan tol maupun jalan arteri, agar arus kendaraan dapat berjalan lancar,” katanya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang