Pilihan kendaraan rendah emisi atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) di Indonesia terus bertambah. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, hingga saat ini sudah ada 56 model dengan 128 varian kendaraan yang diproduksi melalui program LCEV. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibanding awal program yang diluncurkan pada 2021. Saat itu, program LCEV baru diikuti dua perusahaan perakitan. Ketua Tim Kerja Industri Kendaraan Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) Kemenperin Patia Junjungan Monangdo mengatakan, perkembangan tersebut menunjukkan industri otomotif nasional terus bergerak ke arah kendaraan yang lebih ramah lingkungan. "Sejak program ini digulirkan tahun 2021, awalnya hanya diikuti oleh dua perusahaan industri perakitan dan melibatkan 142 perusahaan bahan baku dan komponen dalam negeri," kata Patia, saat ditemui di Jakarta Selatan, Rabu (22/7/2026). LCGC hingga Mobil Listrik Patia menjelaskan, saat ini program LCEV tidak hanya mencakup mobil listrik berbasis baterai (BEV), tetapi juga kendaraan dengan teknologi rendah emisi lainnya. Ketua Tim Kerja Industri Kendaraan Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) Kemenperin Patia Junjungan Monangdo Empat kategori yang masuk dalam program tersebut meliputi Kendaraan Bermotor Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2/LCGC), hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), hingga battery electric vehicle (BEV). "Total ada 56 model dan 128 varian kendaraan yang telah terdaftar secara resmi," ujar Patia. Peserta Program Naik Selain bertambahnya model kendaraan, jumlah produsen yang mengikuti program LCEV juga meningkat pesat. Per Januari 2026, peserta program bertambah menjadi 16 perusahaan industri perakitan, atau naik delapan kali lipat dibanding saat pertama kali diluncurkan. Di sisi lain, pertumbuhan industri komponen sebagai pendukungnya tidak eksponensial. Jika pada awal program hanya melibatkan 142 perusahaan pemasok, kini jumlahnya baru mencapai 322 perusahaan. Pabrik mesin Toyota di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. "Ini merepresentasikan peningkatan masif sebesar 127 persen pada rantai pasok lokal," kata Patia. Meski demikian, bagaimanapun juga, perkembangan ekosistem FCEV memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Kemenperin mencatat, industri yang terlibat dalam program LCEV saat ini menyerap sekitar 195.000 tenaga kerja secara langsung. Realisasi Investasi 25,9 Persen Dari sisi investasi, realisasi yang telah masuk dari peserta program LCEV kini mencapai lebih dari Rp 5,5 triliun, dari total komitmen investasi sebesar Rp 21,2 triliun. Artinya, baru 25.9 persen dan punya potensi serapan lebih besar lagi di masa depan. Sementara itu, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) kendaraan elektrifikasi peserta program saat ini umumnya berada di kisaran 40 persen hingga 46 persen. Bahkan, menurut Patia, terdapat salah satu model yang telah memiliki TKDN mencapai 80 persen. "Kondisi ini menunjukkan pendalaman struktur industri otomotif nasional terus berjalan seiring meningkatnya investasi dan keterlibatan industri komponen lokal," kata Patia.