Toyota Group punya sumbangsih besar dalam membantu perekonomian nasional. Bahkan, terbaru, mereka akan menambah investasi sebesar Rp 20 triliun hingga tiga tahun ke depan!Keputusan tersebut diambil setelah petinggi Toyota global bertemu Presiden Prabowo Subianto di Tokyo, Jepang, belum lama ini. Menurut Nandi Julyanto selaku Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), investasi itu termasuk kemitraan strategis dengan perusahaan baterai asal China, CATL. "Kemarin sewaktu CEO Toyota bertemu dengan Presiden Prabowo, (dikatakan) bahwa sampai dengan term beliau di 2029 mendatang, (investasinya) Rp 20 triliun. (Produksi baterai lokal) termasuk salah satunya," ujar Nandi Julyanto di Pantai Indah Kapuk atau PIK 2, Tangerang, Banten.Toyota x CATL bikin baterai HEV di Indonesia. Foto: Doc. TMMINDi tempat yang sama, Wakil Presdir PT TMMIN, Bob Azam menjelaskan, Rp 20 triliun mungkin tak terlalu besar untuk investasi jangka panjang. Namun, perlu dicatat, di balik investasi tersebut, ada multiplier effect seperti penyerapan tenaga kerja baru."Intinya, investasi di sektor manufaktur nggak bisa disamain sama investasi padat modal lainnya. Manufaktur kan menyerap tenaga kerja. Jadi walaupun investasinya terlihat kurang besar, namun multiplier effect-nya luar biasa," tutur Bob Azam."Tenaga kerja direkrut, create income untuk pemerintah. Kemudian juga ada ekspor gitu lho. Jadi ini harus dihitung sebagai total. Jadi investment masuk dan meng-create sesuatu," tambahnya.[Gambas:Youtube]Sebagai catatan, selama 55 tahun di Indonesia, Toyota Group telah menanam investasi hingga Rp 100 triliun. Bahkan, selama periode itu, mereka sudah melibatkan lebih dari 360 ribu tenaga kerja di berbagai sektor, mulai dari produksi, rantai pasok, distribusi, hingga layanan purna jual."Dalam situasi susah seperti sekarang, justru yang harus didorong adalah existing investor yang ada di dalam. Kalau new investor mau masuk, dia pasti minta fasilitas yang macam-macam. Jadi bukannya create income, malah income kita yang ilang," tuturnya."Karena ada tenaga kerja, ada tenaga ahli yang mendalami baterai, kemudian juga syukur-syukur bisa ekspor nanti," kata Bob menambahkan.