Francesco "Pecco" Bagnaia kembali menghadapi akhir pekan yang sulit pada MotoGP Aragon 2026. Pebalap Ducati Lenovo Team itu gagal finis setelah terjatuh saat balapan baru memasuki lap keenam. Bagnaia saat itu tengah berada di posisi ketujuh. Insiden tersebut menjadi kegagalan finis kedua secara beruntun setelah sebelumnya ia juga mengalami kecelakaan pada MotoGP Inggris. Juara dunia MotoGP dua kali tersebut mengakui tengah mengalami persoalan serius dengan daya cengkeram ban belakang pada Ducati GP26. Masalah yang sudah muncul sejak MotoGP kembali bergulir selepas jeda musim panas itu bahkan disebut semakin memburuk. Usai balapan di Aragon, Bagnaia mengungkapkan bahwa ban belakang kompon medium yang digunakannya sudah kehilangan performa hanya dalam lima lap. "Ban belakang kehilangan traksi, lalu ban depan juga kehilangan traksi. Bagi saya, kurangnya cengkeraman pada ban belakang sudah terlalu parah, karena kenyataannya saya sama sekali tidak memiliki cengkeraman, benar-benar nol," ujar Bagnaia, dikutip dari Crash.net, Senin (31/8/2026). A look at @peccobagnaia's crash ????#AragonGP ???? pic.twitter.com/nt2iRBwaqu — MotoGP™???? (@MotoGP) August 30, 2026 "Cengkeraman benar-benar nol. Saya mengganti peta mesin (map) ke mode tenaga lebih rendah setelah lima lap karena ban belakang sudah benar-benar habis dalam lima lap, padahal saya tidak memacu motor secara agresif ataupun melakukan manuver ekstrem," kata Bagnaia. Bagnaia menambahkan, motor mulai terasa tidak stabil dan melayang (floating) sejak lap kelima. Dia kehilangan traksi belakang, dan saat traksi belakang kembali, dia justru kehilangan traksi depan. Masalah Grip Kembali Memburuk Sebelumnya, Bagnaia sempat menunjukkan tanda-tanda kebangkitan pada pertengahan musim. Pebalap asal Italia tersebut bahkan berhasil meraih empat podium secara beruntun dalam rentang seri Barcelona hingga Brno. Namun, kondisi itu berubah sejak MotoGP Inggris di Sirkuit Silverstone. Bagnaia mengaku ada sesuatu yang terjadi pada motornya dan membuat persoalan daya cengkeram kembali muncul dengan kondisi yang lebih parah. Situasi tersebut membuat Bagnaia mulai mengkhawatirkan seri-seri berikutnya, terutama ketika MotoGP menggelar balapan di sirkuit dengan karakter aspal yang memiliki tingkat cengkeraman lebih rendah. Pebalap Ducati Lenovo Team, Francesco Bagnaia, beraksi dalam sesi kualifikasi MotoGP 2025 Malaysia di Sirkuit Internasional Sepang di Sepang pada 25 Oktober 2025. (Foto oleh Lillian SUWANRUMPHA / AFP) "Menurut saya, sensasi berkendara tidak terlalu buruk hingga seri Sachsenring. Segalanya berjalan lebih konsisten. Memang saya sempat kesulitan, itu benar, tetapi hasilnya lebih menjanjikan," ujar Bagnaia. "Sejak Silverstone, ada sesuatu yang terjadi karena cengkeraman saya benar-benar nol, dan saya tidak tahu apa yang akan terjadi saat kami tiba di sirkuit dengan tingkat cengkeraman yang lebih rendah. Saya tidak bisa membayangkannya," kata Bagnaia. Set-up Motor Tak Banyak Berubah Bagnaia juga membantah adanya perubahan besar pada pengaturan atau set-up motor yang menjadi penyebab memburuknya masalah tersebut. Menurut dia, Ducati tetap menggunakan pengaturan yang kurang lebih sama seperti sepanjang musim. Tim sempat mencoba memberikan beban lebih besar pada bagian belakang motor, tetapi solusi tersebut belum mampu mengatasi persoalan yang dihadapinya. Pebalap Ducati Lenovo Team, Francesco Bagnaia, melambai sebelum dimulainya Sprint Race MotoGP Argentina 2025 di Sirkuit Termas de Rio Hondo di Santiago del Estero, Argentina pada 15 Maret 2025. Terkini, Bagnaia menjadi pemenang balapan MotoGP Amerika 2025 di Sirkuit COTA, Austin, 30 Maret 2025. (Photo by Luis ROBAYO / AFP) "Tidak. Pengaturannya serupa. Masalahnya adalah kemarin pagi saya merasa sedikit lebih baik. Kami mencoba memberikan lebih banyak beban pada bagian belakang. Namun, hal itu lebih sulit dilakukan saat balapan sprint," ujar Bagnaia. “Pada pagi harinya, kami kembali menggunakan setelan yang kurang lebih sama dengan yang kami pakai sepanjang musim ini. Sesi pemanasan berjalan sangat buruk karena berbagai alasan, namun saat balapan, ban sudah habis hanya dalam lima lap,” kata Bagnaia. Hasil di Aragon semakin menegaskan bahwa Bagnaia masih belum menemukan jawaban atas masalah yang membelitnya. Persoalan tersebut kini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Ducati, terutama jika karakter sirkuit berikutnya menawarkan tingkat daya cengkeram yang lebih rendah.