Kemampuan jarak tempuh menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan konsumen saat memilih motor listrik. Bagi pengguna dengan mobilitas tinggi, jarak tempuh yang memadai dapat mengurangi kekhawatiran kehabisan daya di tengah perjalanan. Rahman, pemilik Alva N3 Next Gen dengan sistem sewa baterai sejak Mei 2026, mengatakan, dirinya menginginkan motor listrik dengan jarak tempuh hingga 200 kilometer (km). Namun, harganya harus tetap terjangkau. “Jika bisa, saya akan memilih motor listrik dengan jarak tempuh 200 km, tetapi harganya harus lebih terjangkau," kata Rahman kepada Kompas.com, Kamis (8/10/2026). Menurut Rahman, jarak tempuh yang lebih panjang dapat memberikan keleluasaan saat berkendara, terutama ketika fasilitas pengisian daya belum tersedia secara merata. Perbandingan Gesits G1 vs ALVA N3 "Mengapa 200 km? Karena infrastruktur pengisian daya belum merata. Dengan jarak tempuh 200 km, berkendara sehari-hari bisa lebih tenang tanpa harus terus memikirkan kapan harus mengisi daya,” ujarnya. Meski begitu, kebutuhan setiap pengguna berbeda. Jarak tempuh ideal bergantung pada pola perjalanan, intensitas penggunaan, serta kemudahan mengisi atau menukar baterai. Kebutuhan Jarak Tempuh Berbeda dengan Rahman, Bimo, warga Pamulang, Tangerang Selatan, mengaku belum tertarik menggunakan motor listrik karena belum menemukan model dengan jarak tempuh yang sesuai dengan kebutuhannya. “Belum, karena belum ada yang jaraknya jauh,” ujar Bimo. Menurut dia, motor listrik idealnya mampu menempuh setidaknya 100 km untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Alva luncurkan SPKLU motor listrik bernama Boost Charge Station Pertimbangannya, perjalanan di perkotaan tidak hanya ditentukan oleh jarak, tetapi juga kondisi lalu lintas dan kebutuhan mobilitas. “100 kilometer lah, buat sehari 100 kilometer. Karena macet dan segala macam, itu jadi pertimbangan saya,” katanya. Bimo memperkirakan kebutuhan perjalanan hariannya mencapai lebih dari 60 km. Rutenya meliputi Pamulang, Serpong, Jakarta, kemudian kembali ke Pamulang. “Kalau aktivitas harian buat saya, ya 60 kilometer ke atas. Saya di Pamulang, ke Serpong, terus ke tengah lagi, ke Jakarta, kemudian balik lagi ke Pamulang,” ujar Bimo. Dengan pola perjalanan tersebut, ia menilai kemampuan jarak tempuh perlu menjadi pertimbangan sebelum memilih kendaraan listrik. Motor listrik untuk pemakaian sehari-hari Terukur Rizal, asal Depok, Jawa Barat, mengaku mulai tertarik beli motor listrik. Namun menurutnya masih sangat bergantung pada kebutuhan dan pola penggunaan. “Tertarik. Kalau tertarik sebenarnya lihat kebutuhan. Bisa jadi opsi baru. Jadi, penggunaannya itu tadi, lihat dari kebutuhan,” kata Rizal. Untuk penggunaan harian, Rizal menilai motor listrik sebenarnya dapat memenuhi kebutuhan apabila jarak perjalanan masih berada dalam jangkauan baterai. “Saya pulang pergi sekitar 40 kilometer. Sebenarnya masuk range, tapi kalau misalnya benar-benar cuma A ke B, B ke A lagi. Makanya tadi kalau mobilitas tinggi, tidak,” ujarnya. Ia menilai motor listrik lebih masuk akal digunakan untuk aktivitas yang memiliki pola perjalanan sederhana dan relatif terukur. Sebaliknya, kendaraan tersebut menjadi kurang praktis ketika pengguna memiliki mobilitas tinggi dan harus berpindah-pindah tempat dalam satu hari.