Pengguna motor listrik di Indonesia kini dihadapkan pada tiga pilihan sistem baterai, yakni sewa, beli dengan baterai, dan swap atau tukar baterai. Ketiganya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tergantung kebutuhan dan pola mobilitas penggunanya. Abdullah, pemilik bengkel spesialis motor listrik Dolland Motor Electric, membagikan pengalamannya menangani ketiga sistem tersebut, baik dari sisi teknisi bengkel maupun sebagai pengguna motor listrik sehari-hari. Bengkel Umum Kesulitan Menurut Abdullah, dari sudut pandang bengkel, baterai sewa maupun swap justru menyulitkan proses perbaikan. Sebab, bengkel umum tidak diberi wewenang untuk mengutak-atik sistem milik penyedia layanan sewa atau swap tersebut. Perbandingan Alva N3 vs Polytron Fox 350 "Kita jarang bisa terima servis ketika terjadi error terkait baterai, sinyal, ataupun jalur data baterai ke kontroler," ujar Abdullah kepada Kompas.com, Senin (31/8/2026). Sebaliknya, baterai milik pribadi disebut lebih memudahkan proses pengecekan dan penanganan lebih lanjut oleh bengkel, tanpa perlu khawatir melanggar sistem sewa maupun swap yang digunakan. Pengalaman Pribadi Di luar perannya sebagai pemilik bengkel, Abdullah juga menjadi pengguna langsung ketiga sistem baterai tersebut. Saat ini, ia memiliki dua motor listrik dengan sistem berbeda, yakni baterai sewa dari Polytron untuk motor utamanya, dan dengan baterai untuk motor milik istrinya. Ia juga pernah menjajal sistem swap. Dari pengalaman menggunakan baterai pribadi berkapasitas besar, Abdullah mengaku pernah mengeluarkan biaya besar di awal saat memperbaiki dan merakit ulang, namun performa baterai mulai menurun sejak tahun ketiga pemakaian. Kapasitas dan jarak tempuh dirasa mulai berkurang, sementara biaya perbaikannya pun tidak murah. "Ketika battery pack sudah dibongkar, biasanya sel-sel di dalamnya mulai memiliki perbedaan voltase yang tinggi. Mungkin tidak signifikan, tapi kalau dipakai akan terasa pada kapasitas dan daya yang dikeluarkan," katanya. Hitung-hitungan Biaya Sewa Dibanding Beli Abdullah pun membandingkan biaya antara merakit baterai pribadi dengan kapasitas tertentu dan menyewa baterai dengan kapasitas setara. Bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat Menurut penghitungannya, merakit baterai pribadi dengan kapasitas yang sama seperti motor sewaannya menghabiskan biaya sekitar Rp 13 juta, dengan casing berbahan stainless yang ketahanannya terhadap air dinilai tidak sebaik baterai pabrikan. Sementara itu, biaya sewa baterai untuk kapasitas serupa hanya sekitar Rp 2,4 juta per tahun (Rp 200.000 per bulan), sudah termasuk jaminan penggantian apabila terjadi penurunan performa baterai secara signifikan. Karena pertimbangan itu, Abdullah kini menggunakan baterai sewa untuk motor utamanya yang dipakai untuk mobilitas tinggi, sementara motor istrinya yang jarak tempuhnya lebih pendek menggunakan baterai pribadi rakitan berkapasitas kecil dengan biaya di bawah Rp 5 juta. Battery Swap Station VinFast E-Motorcycle sudah tembus 2.000 titik di Indonesia Mobilitas Tinggi Abdullah menilai sistem swap sangat cocok digunakan oleh pengguna dengan mobilitas tinggi, seperti pengemudi ojek online, kurir, maupun sales. Sistem ini memudahkan pengguna karena tidak perlu menunggu proses pengisian daya dan cukup menukar baterai di kabinet penyedia layanan. Namun demikian, risiko yang pernah dialaminya adalah gangguan pada sistem dan server penyedia layanan swap yang terkadang mengalami keterlambatan. Abdullah bahkan pernah menunggu hingga satu jam akibat baterai yang tertelan di dalam kabinet.