Membeli mobil baru bukan lagi sekadar memilih merek, model, atau warna yang disukai. Di tengah kondisi ekonomi yang masih menuntut masyarakat lebih bijak mengelola keuangan, keputusan memiliki mobil kini menjadi pembahasan penting di dalam keluarga. Terlebih jika pembelian dilakukan secara kredit. Besarnya uang muka, cicilan bulanan, biaya perawatan, asuransi, hingga kebutuhan rumah tangga harus dihitung dengan cermat agar tidak membebani kondisi keuangan keluarga. Karena itu, keputusan membeli mobil kini semakin jarang diambil secara sepihak. Mitsubishi Destinator di GIIAS 2026 Meski kepala keluarga masih menjadi penentu utama, pasangan hingga anak mulai memiliki peran dalam memberikan masukan sebelum keputusan akhir diambil. Hasil wawancara Kompas.com dengan sejumlah pengunjung Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 menunjukkan pola tersebut. Rian, warga Jakarta, mengatakan keputusan akhir memang berada di tangan kepala keluarga. Namun, karena membeli mobil merupakan pengeluaran besar, ia selalu meminta pendapat istri terlebih dahulu. "Keputusan tetap di kepala keluarga ya, tapi pasti ada meminta pendapat juga ya karena beli mobil kan keputusannya cukup lumayan pengeluaran dan pasti akan minta pertimbangan juga sih," katanya kepada Kompas.com, belum lama ini. Ilustrasi booth BYD di GIIAS 2026 Menurut Rian, pertimbangan terbesar datang dari istri karena berkaitan langsung dengan kondisi keuangan keluarga. Sementara anak-anak yang masih kecil hanya dimintai pendapat soal tampilan mobil. "Ke istri, terutama sih. Peran anak karena anaknya masih kecil-kecil, jadi cuma nanya ini bagus apa enggak sih? Kita lebih ke arah sana. Tapi kalau beli atau tidak terkait dengan kondisi keuangan pasti ke istri juga," katanya. Pandangan serupa disampaikan Ari (44). Menurut dia, keputusan membeli mobil tetap berada di tangan kepala keluarga. Sementara istri dan anak biasanya hanya memberikan masukan terkait desain kendaraan. "Kepala keluarga," kata Ari. Ilustrasi Wuling Aira EV di GIIAS 2026 "Hubungannya (pendapat anak) biasanya sih lebih ke ini, interior saja sih sebenarnya. Interior sama eksterior gitu ya. Tapi keputusan biasanya di saya." Pemberi Masukan Pada sisi lain, tidak sedikit keluarga yang menerapkan pola diskusi sebelum membeli mobil. Bahkan, anak-anak kini ikut memberikan pertimbangan karena lebih aktif mengikuti perkembangan dunia otomotif melalui internet dan media sosial. Satrio Suryono (41) mengatakan keputusan membeli mobil selalu melibatkan istri dan anak. Mitsubishi XForce HEV Menurut dia, masukan dari seluruh anggota keluarga menjadi pertimbangan sebelum menentukan pilihan. "Dari istri dan anak sih yang pasti. Persetujuan juga dan masukan juga sih. Semuanya sih sebenarnya," ujarnya. Satrio yang membeli Wuling Aira tipe tertinggi di GIIAS 2026 mengaku salah satu alasan beralih ke mobil listrik adalah biaya operasional yang dinilai lebih terjangkau untuk penggunaan sehari-hari. "Sebenarnya lebih ke arah ini ya, lebih ke arah untuk sekarang kan EV murah banget ya. Maksudnya untuk keseharian maksudnya. Jadi lebih milih EV sih sekarang jadinya beralih ke EV untuk sehari-hari gitu," katanya. dhea Pengunjung GIIAS Hal senada disampaikan Yeni, warga Serang, Banten. Menurut dia, keputusan membeli mobil selalu diputuskan bersama seluruh anggota keluarga. "Semua. Kalau kita kebetulan nih misalnya pokoknya ada saja 'gimana kalau ini nih kita mau cari mobilnya, kita lihat mobil yang ini yuk'. Si Bapak pasti nanya ke saya kalau ini gimana-gimana," ujar Yeni. Menurut Yeni, anak-anak juga memiliki peran karena sering memperoleh informasi terbaru mengenai sebuah mobil. "Nah, mereka (anak-anak) juga berhak mengeluarkan pendapat dengan versi Gen Z-nya ya. Mereka juga kadang sudah tahu info-info duluan," ujarnya. Bahkan, informasi yang mereka peroleh sering menjadi bahan pertimbangan sebelum membeli. "Setahu saya kalau yang mau yang begini ini kelemahannya gini-gini. Karena mereka lebih tahu dibanding kita yang sudah tua kan. Makanya jadi kalau bilang siapa penentu, ya kita ini bareng sih, diskusi bareng sebenarnya sebelum mutusin," kata Yeni. Putuskan Sendiri Toyota Hilux BEV di GIIAS 2026 Meski banyak memilih berdiskusi, sebagian mengaku keputusan pembelian tetap berada di tangan pribadi. Umumnya karena mobil akan digunakan sendiri atau seluruh biaya pembelian berasal dari dana pribadi. Ken, warga Jakarta, misalnya, menilai orang yang mengeluarkan uang berhak menentukan pilihan. "Saya sendiri. Kalau pakai duit sendiri ya saya sendiri, kalau pakai duit orang lain baru deh," kata Ken. Pendapat serupa disampaikan Chandra, warga Karawang. "Saya sih," ujar Chandra. Sementara itu, Dea mengatakan keputusan berada di tangannya karena mobil tersebut digunakan untuk aktivitas sehari-hari. "Aku sendiri. Iya. Karena kan yang pakai mobil itu aku yang pakai gitu," katanya. Pola Pengambilan Keputusan Beragam jawaban tersebut menunjukkan bahwa pola pengambilan keputusan dalam membeli mobil mulai bergeser. Jika dahulu kepala keluarga menjadi penentu utama, kini keputusan lebih banyak diambil melalui diskusi bersama pasangan, bahkan anak-anak. Perubahan ini tidak lepas dari kondisi ekonomi yang membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam mengeluarkan dana, terutama untuk pembelian bernilai besar seperti mobil. Terlebih jika dilakukan secara kredit, keputusan tersebut akan memengaruhi kondisi keuangan keluarga dalam jangka panjang. Karena itu, mempertimbangkan pendapat seluruh anggota keluarga menjadi langkah yang semakin umum dilakukan sebelum memutuskan membeli mobil baru.