Tren kendaraan listrik di Indonesia mulai menunjukkan pola yang berbeda antara Jakarta dan sejumlah kota besar di luar Jawa. Konteks ini merujuk pada profil konsumen Jaecoo J5 EV yang mulai tersebar di berbagai daerah. Head of Marketing Jaecoo Indonesia, Ilham Pratama, mengatakan pemesanan J5 EV tidak hanya datang dari Jakarta, tetapi juga dari Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Denpasar, Medan, Batam, hingga Kalimantan seperti Balikpapan. Bahkan, saat ini jangkauan paling timur penjualan Jaecoo sudah mencapai Makassar. “Paling timur kita ada di Makassar saat ini. Karena rupanya penetrasi EV di daerah itu sudah mulai tumbuh. Kalau Jakarta kan ngejarnya supaya bebas ganjil-genap fokus utamanya. Tapi kalau di daerah lebih ke efisiensi,” kata Ilham di Jakarta Barat, Rabu (25/2/2026). Menurut dia, konsumen di Jakarta umumnya terdorong faktor regulasi seperti pembatasan ganjil-genap. Sementara di luar ibu kota, pertimbangan utama pembelian lebih banyak berkaitan dengan hitung-hitungan biaya operasional. Ia menjelaskan, konsumen daerah cenderung memperhitungkan pengeluaran harian secara detail. Biaya listrik per kilometer yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar minyak menjadi daya tarik utama, terutama bagi pengguna dengan mobilitas tinggi. Sebagai gambaran, tarif listrik rumah tangga non-subsidi saat ini berada di kisaran Rp 1.400–1.700 per kWh. Jika sebuah mobil listrik rata-rata membutuhkan sekitar 15–20 kWh untuk menempuh jarak 100 kilometer, maka biaya perjalanan berada di kisaran Rp 21.000–34.000 per 100 km. Angka tersebut umumnya lebih rendah dibandingkan mobil berbahan bakar bensin yang dengan konsumsi rata-rata 12–15 km per liter dapat menghabiskan sekitar Rp 80.000–100.000 untuk jarak serupa, tergantung harga BBM yang digunakan. Selain faktor efisiensi, perkembangan infrastruktur pengisian daya juga ikut membangun kepercayaan konsumen. Jika sebelumnya stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) identik dengan kantor PLN, kini fasilitas tersebut semakin mudah dijumpai di hotel, pusat perbelanjaan, dan area komersial swasta. Ilustrasi SPKLU. Jawa Barat sedang bersiap untuk ekonomi lebih hijau dari hulu hingga hilir, yakni PLTA hingga SPKLU. Berdasarkan data PLN, pada awal 2025 jumlah SPKLU di Indonesia telah mencapai lebih dari 3.500 unit yang tersebar di lebih dari 2.400 titik strategis, dengan mayoritas berada di Pulau Jawa. Perseroan bahkan memproyeksikan total charging station, termasuk SPKLU, mendekati 4.500 unit pada pertengahan 2025 untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional. Pertumbuhannya terus berlanjut. Hingga awal 2026, jumlah SPKLU yang telah beroperasi tercatat melampaui 5.000 unit dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia. “Sekarang pertumbuhan SPKLU sudah cukup banyak. Kalau dulu kan hanya di setiap kantor PLN. Sekarang di beberapa swasta, area publik itu sudah pasti ada. Hotel sudah pasti ada, atau pusat perbelanjaan. Artinya itu memudahkan,” ujarnya. Dengan penyebaran konsumen yang semakin luas serta dukungan infrastruktur yang kian merata, Jaecoo melihat potensi pertumbuhan J5 EV tidak lagi terpusat di Jakarta, tetapi mulai bergerak ke kota-kota besar lainnya di Indonesia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang