Modifikasi pada kendaraan niaga, termasuk truk, tidak hanya berkaitan dengan tampilan. Penggunaan aksesori yang tidak tepat juga dapat memengaruhi aspek keselamatan, terutama pada komponen yang menghasilkan panas saat kendaraan beroperasi. Salah satunya adalah penggunaan dop atau penutup pada pelek truk. Aksesori tersebut biasanya dipasang untuk menutup bagian pelek sehingga tampilan roda terlihat lebih rapi. Namun, penggunaan dop yang menutup seluruh bagian pelek perlu diperhatikan. Pasalnya, sistem pengereman pada truk menghasilkan panas, terlebih ketika kendaraan membawa beban berat dan melakukan pengereman secara berulang. Pelek truk rusak karena mur tidak kencang Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Bambang Widjanarko, mengatakan, pemasangan dop tertutup pada pelek dapat membuat panas dari sistem pengereman terperangkap. "Terus ada lagi pelek itu dikasih dop. Dopnya tertutup. Dopnya itu juga memanaskan antara cakram rem dengan pelek itu," kata Bambang kepada Kompas.com, belum lama ini. "Jadi, ketika terjadi pengereman berulang-ulang, tromolnya kan panas. Panasnya itu terperangkap di dalam tutupan itu, yang seperti tutup panci, ditutupkan ke pelek," katanya. Panas Ban Bambang menjelaskan, panas pada ban truk tidak hanya berasal dari gesekan antara ban dan permukaan jalan. Bagian pelek truk Panas juga dapat berasal dari sistem pengereman, terutama ketika rem digunakan secara terus-menerus. Kondisi ini dapat terjadi ketika truk membawa muatan berat atau melaju di jalan yang membutuhkan pengereman berulang. Menurut Bambang, lubang pada pelek memiliki fungsi untuk membantu pelepasan panas. Karena itu, menutup bagian tersebut dengan dop dapat mengurangi pelepasan panas dari area roda. "Aslinya pelek itu enggak ada dopnya. Justru pelek itu dibuat lubang-lubang. Itu untuk aerodinamika, untuk merilis panas gitu. Tapi malah sama dia ditutupin," katanya. "Ban itu kalau overheated, musuh utama ban itu panas. Panas itu bisa disebabkan karena gesekan, abrasi dengan jalan, atau dari tromol rem yang pengereman berulang-ulang, kemudian menyalur ke pelek dan menyalur ke bannya," ujarnya. Pelek truk sumbing atau pecah Risiko Panas yang dihasilkan sistem pengereman dapat merambat ke komponen roda, termasuk pelek dan area dudukan ban. Jika temperatur ban terlalu tinggi atau mengalami overheat, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kerusakan pada ban. Pada kondisi tertentu, panas berlebih juga dapat meningkatkan risiko kegagalan ban. "Kalau panas tromolnya nanti menyalur ke ban, dari tromol menyalur ke pelek, pelek menyalur ke bibir bannya, yang tempat ban itu duduk. Nah, nanti kan berpotensi meledak juga," ujarnya. Bambang menilai, penggunaan dop tertutup pada pelek merupakan salah satu modifikasi yang perlu diperhatikan oleh pengemudi truk. "Ini lagi sekarang ditutup-tutupin kayak gitu. Jadi, banyak yang aneh-aneh dilakukan oleh sopir Indonesia yang kreatif gitu,” ujarnya.