Adegan mobil mundur lalu langsung pindah ke gigi maju sambil berputar tajam sering muncul dalam film action. Manuver seperti itu memang terlihat keren di layar, tetapi jika diterapkan pada mobil harian justru bisa mempercepat kerusakan komponen kendaraan. Pemilik Dokter Mobil, Lung Lung, mengatakan perpindahan gigi secara kasar saat mobil masih bergerak sebenarnya tidak disarankan, terutama pada penggunaan sehari-hari. “Sebenarnya enggak boleh. Kalau lagi mundur terus langsung diputar balik terus maju lagi kayak di film-film, ya itu tetap harus direm dulu baru masuk gigi satu lagi,” ujar Lung Lung kepada Kompas.com, Selasa (26/5/2026). Menurut dia, kebiasaan memaksa perpindahan arah kendaraan saat mobil belum berhenti sempurna dapat membuat kopling dan sistem transmisi bekerja lebih keras dari seharusnya. “Kalau keadaan normal sehari-hari, ngapain sih dipaksa-paksa? Nanti rusak bro,” katanya. Lung Lung menjelaskan, dalam kondisi tertentu seperti situasi darurat, manuver agresif mungkin memang terpaksa dilakukan demi keselamatan. Namun untuk penggunaan normal, gaya berkendara seperti itu hanya memberi beban tambahan pada komponen kendaraan. Transmisi manual pada mobil. Selain kopling, transmisi dan kaki-kaki mobil juga bisa menerima tekanan besar akibat perpindahan beban secara mendadak. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut berpotensi mempercepat keausan komponen. Fenomena pengemudi meniru gaya berkendara film action sebenarnya cukup sering ditemui, terutama di media sosial. Tidak sedikit pengendara yang mencoba melakukan manuver cepat demi terlihat atraktif atau sekadar mengikuti tren konten. Padahal kendaraan produksi massal dirancang untuk penggunaan normal dan nyaman di jalan raya, bukan untuk manuver ekstrem terus-menerus seperti kendaraan stunt dalam film. Lung Lung mengingatkan bahwa cara berkendara yang halus justru lebih baik untuk menjaga usia pakai kendaraan tetap panjang. Termasuk saat melakukan perpindahan gigi, pengereman, maupun akselerasi. “Kalau enggak penting-penting amat, ya berhenti dulu. Jangan dipaksa,” ucapnya. Selain berisiko merusak mobil, manuver ekstrem di jalan umum juga bisa membahayakan pengguna jalan lain. Karena itu, pengemudi disarankan tetap mengutamakan keselamatan dibanding sekadar mengejar sensasi berkendara. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang