Salah satu kritik yang masih sering diarahkan kepada kendaraan listrik adalah jarak tempuh yang dinilai terbatas. Tak sedikit pula yang menganggap waktu pengisian daya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) terlalu lama sehingga mengurangi produktivitas, terutama bagi pengemudi yang mengandalkan kendaraan sebagai sumber penghasilan. Namun jika dilihat dari sisi lain, keterbatasan tersebut justru dapat memberikan manfaat bagi kesehatan dan keselamatan pengemudi. Pengamat kendaraan listrik Hendro Sutono, menilai kewajiban berhenti untuk mengisi daya secara tidak langsung memaksa pengemudi beristirahat setelah berkendara selama beberapa saat. Menurut Hendro, kendaraan listrik dengan segala keterbatasan teknisnya justru dapat berperan sebagai pengingat agar pengemudi tidak terus memaksakan diri bekerja tanpa jeda. SPKLU VinFast yang didukung V-Green mulai menjangkau berbagai titik di Indonesia "Sebagai pengamat yang sering menyoroti dinamika otomotif dan keselamatan transportasi, saya melihat ada pergeseran paradigma yang sangat menarik," katanya kepada Kompas.com, Rabu (22/7/2026). "Kendaraan listrik, dengan segala keterbatasan teknisnya, secara tidak langsung bertindak sebagai 'asisten kesehatan' otomatis bagi pengemudi ojek dan taksi online," ujarnya. Juru Bicara Komunitas Sepeda/Motor Listrik (KOSMIK) Indonesia, ini menjelaskan, banyak orang melihat keterbatasan jarak tempuh sebagai kelemahan kendaraan listrik. Namun, jika dikaitkan dengan kebutuhan biologis manusia, jeda untuk mengisi ulang baterai justru bertepatan dengan waktu ketika tubuh mulai membutuhkan istirahat. "Ini bukan sekadar teori, melainkan sebuah realitas yang selaras dengan ritme biologis manusia dalam beraktivitas," katanya. Shuttle ojek motor listrik KTT G20 Ritme Tubuh Sebagai gambaran, kata Hendro, Dinas Perhubungan DKI Jakarta mencatat kecepatan rata-rata kendaraan di Jakarta berada di kisaran 25 kilometer per jam akibat kemacetan. Dengan kondisi tersebut, mobil listrik yang memiliki jarak tempuh efektif sekitar 200 kilometer akan digunakan selama kurang lebih delapan jam sebelum baterainya perlu diisi ulang. Sementara itu, sepeda motor listrik dengan jarak tempuh efektif sekitar 125 kilometer umumnya akan mencapai batas penggunaan setelah sekitar lima jam beroperasi. Durasi tersebut dinilai tidak jauh berbeda dengan waktu ideal seseorang bekerja secara terus-menerus sebelum beristirahat sejenak untuk memulihkan kondisi fisik maupun mental. "Dalam dunia kerja yang kompetitif, banyak pengemudi yang terjebak dalam ambisi untuk terus berada di jalanan demi mengejar target pendapatan," ujarnya. Swap baterai motor listrik Honda "Mereka sering kali mengabaikan sinyal biologis tubuh. Dehidrasi, ketegangan otot, hingga penurunan konsentrasi kognitif akibat kelelahan kronis menjadi ancaman nyata," kata Hendro. Waktu Menurut Hendro, jika dilihat dari sisi lain, waktu yang digunakan untuk mengisi daya kendaraan listrik di SPKLU seharusnya tidak selalu dipandang sebagai waktu yang terbuang. Jeda tersebut dapat dimanfaatkan untuk minum, makan, melakukan peregangan, atau sekadar mengistirahatkan tubuh sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Dengan kata lain, menurutnya, keterbatasan jarak tempuh kendaraan listrik tidak selalu menjadi kekurangan. Dalam kondisi tertentu, karakteristik tersebut justru dapat membantu menciptakan pola kerja yang lebih sehat sekaligus mendukung keselamatan pengemudi di jalan.