Indonesia terus mengembangkan bahan bakar nabati atau biofuel. Salah satu yang paling terlihat adalah biodiesel yang kini telah mencapai campuran B50. B50 merupakan bahan bakar diesel yang mengandung 50 persen bahan bakar nabati berbasis minyak sawit dan 50 persen bahan bakar diesel berbasis fosil. Pencapaian tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat. Indonesia membutuhkan proses untuk meningkatkan kadar campuran biodiesel secara bertahap, mulai dari persentase rendah hingga akhirnya mencapai B50. Senior Vice President Business Development PT Pertamina Ary Kurniawan mengatakan, perjalanan tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam mengembangkan biofuel ke depan. "Jadi, kalau terkait dengan bagaimana kita mengembangkan biofuel di Indonesia, kita harus belajar dari faktor-faktor keberhasilan kita, success story kita terkait dengan pengembangan biofuel di Indonesia," kata Ary di EBTKE ConEx 2026, pekan lalu. Toyota Fortuner yang telah menjalani tes B50 sejauh 50.000 km "Jadi, kalau kita lihat, Indonesia adalah satu-satunya negara yang berhasil mencapai B50. Jadi, ini adalah sesuatu yang cukup bangga buat kita," ujarnya. Tahap Awal Menurut Ary, pencapaian B50 merupakan hasil dari proses panjang. Penerapan biodiesel dilakukan secara bertahap untuk memberikan waktu bagi industri, infrastruktur, kendaraan, dan masyarakat dalam beradaptasi. "Dilihat dari bagaimana kisah sukses dari pengembangan biofuel ini, tentu saja semuanya tidak langsung terjadi dalam satu waktu. Untuk menuju B50, kita membutuhkan waktu hampir 16 tahun," katanya. "Jadi, implementasi awal itu adalah di 2010. Waktu itu, blending-nya sekitar 2,5 persen, kemudian 5 persen sampai 10 persen. Dari situ kemudian blend up (dinaikkan)," ujarnya. Program tersebut kemudian terus berkembang seiring dengan kesiapan berbagai sektor yang terlibat dalam penggunaan biodiesel. Biosolar B50 Ary menjelaskan, Indonesia membutuhkan waktu sekitar delapan tahun sejak implementasi awal hingga mampu mencapai B20. "Jadi, delapan tahun itu baru mencapai B20. Jadi, 2016 itu kita mencapai B20. Itu adalah, kita bilang, proses mulai belajar bagaimana untuk memanfaatkan biofuel di Indonesia," katanya. Pengalaman dalam menggunakan biodiesel dengan kadar campuran yang semakin tinggi menjadi modal untuk meningkatkan pemanfaatan bahan bakar nabati. Infrastruktur Jadi Kunci Selain kesiapan produk dan kendaraan, infrastruktur menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan biodiesel. Bahan bakar yang sudah diproduksi harus dapat didistribusikan secara luas agar masyarakat di berbagai daerah bisa menggunakannya. "Infrastruktur, yes, itu menjadi salah satu faktor utama juga. Karena kita perlu untuk mendistribusikan biodiesel sampai ke seluruh pelosok di Indonesia," ujarnya. Ilustrasi BBM. Ilustrasi SPBU. Harga Pertamax Green 95 naik. E20 Setelah biodiesel mencapai B50, pengembangan bahan bakar nabati di Indonesia tidak berhenti. Pemerintah tengah menyiapkan penggunaan bioetanol E20. Berbeda dengan biodiesel yang digunakan pada solar, bioetanol digunakan sebagai campuran bensin. Pemerintah menargetkan kebijakan pencampuran etanol sebesar 20 persen pada bensin atau E20 pada 2028. Penerapan E20 tidak lain untuk menekan ketergantungan impor minyak. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, penerapan E20 terinspirasi dari keberhasilan program mandatori biodiesel yang sudah terlaksana. "Kalau kita mandatori 20 persen (etanol), berarti kita kurangi impor bensin 8 juta kiloliter (KL)," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Minggu (3/5/2026).