Pemerintah berencana menjalankan program biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengatakan industri otomotif siap mengimplementasikan campuran bahan bakar nabati atau crude palm oil dan 50 persen solar."Kita hanya melihat dari industri otomotifnya ya. Jadi kendaraannya sudah diuji," ujar Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara saat ditemui di GIICOMVEC, di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2026).Dia menyebut tidak masalah dengan arah kebijakan tersebut. Berkaca dari implementasi biodiesel yang dilakukan bertahap, tidak ada masalah bagi mesin diesel. "Kali ini tidak ada masalah (penerapan B50). Jadi yang B50 ya," tambah dia."Kita antisipasi yang sebelumnya kan bertahap dari B5, B10, B15, B20. Yang terakhir kan sampai B40 kan. Nah, kemudian dicoba ke B50 sekarang. Nah, itu semua persaratannya sudah ada, semua detail sih," kata Kukuh."Selama karakteristiknya itu dipenuhi, harusnya tidak ada masalah," tambahnya lagi.Gaikindo meyakini program ini direncanakan untuk diterapkan guna meningkatkan penggunaan energi terbarukan dan mengurangi impor."Kemudian ada B50. Itu kan luar biasa penghematannya. Artinya itu 50% bisa digantikan dengan bahan bakar yang terbarukan," jelasnya lagi.Diberitakan detikcom sebelumnya, langkah ini sebagai bagian dari penghematan BBM di tengah sulitnya pasokan minyak imbas perang Timur Tengah."Sebagai bagian dari kemandirian energi dan efisiensi energi, pemerintah menerapkan kebijakan B50, ini mulai berlaku 1 Juli 2026, " ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam Konferensi Pers Tentang Kebijakan Pemerintah dalam Mitigasi Risiko & Antisipasi Dinamika Global yang dipantau secara daring, Selasa (31/3/2026).Airlangga mengatakan Pertamina juga telah siap untuk melaksanakan mandatori tersebut. Selain itu, kebijakan ini akan ada penghematan BBM berbasis fosil sebanyak 4 juta kiloliter per tahunnya."Tentu dalam enam bulan ada penghematan dari fosil dan ada penghematan subsidi daripada biodisel yang diperkirakan nilai Rp 48 triliun," terang Airlangga.